LingkungamMaluku

Tubuh yang Mengingat Hutan: Catatan dari Pertunjukan “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi”

Gagasan karya ini mulai mengkristal ketika kegelisahan pribadi itu dipertemukan dengan percakapan malam bersama rekan senimannya, Ari. 

Tamara memilih tidak menggunakan dialog panggung konvensional. Baginya, kata-kata kerap kali gagal menampung kepedihan atas kerusakan alam. Tubuh manusia –dengan otot, nafas, dan kemampuannya merasakan dorongan fisik– dianggap sebagai medium arsip yang paling jujur.

Dalam menyusun koreografi dan konsep dramaturgi, Tamara membalikkan sudut pandang penceritaan. Ia menolak narasi antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat penderitaan.

“Beta sengaja seng berangkat dari sudut pandang manusia,” ungkap Tamara. “Beta di sini bikin karya ini pakai sudut pandang alam… Rambut yang dipotong itu juga sudut pandang: bagaimana ya kalau pohon itu orang potong kas rubuh, seng minta izin? Bagaimana rasanya pohon waktu dia punya rambut –yang katong lihat daun-daun ini– orang kasih habis seng minta-minta izin?”

Pemilihan bentuk teater tubuh secara eksplisit juga merupakan upaya untuk membebaskan pertunjukan dari kategori tari formal yang serba simetris dan indah. Tamara menginginkan setiap gerak aktornya –Luvena Sahureka, Channa Manuhutu, Sean Latupeirisa, Tamara Agustina Hurulean, Risma Jaftien Solissa, Lindsay Ririmase, Putri Ririmase– lahir dari artikulasi respon tubuh terhadap sesak yang diciptakan oleh penyempitan ruang hidup.

lateri
Puluhan penonton mengikuti pertunjukan seni “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi” di kawasan Lateri, Ambon, yang mengangkat tema krisis ekologis dan ingatan kolektif masyarakat.(Foto: Dok. Lateri; Ingatan Tubuh Bumi)

Garis batas wilayah dan perselisihan ruang yang belakangan kerap menghinggapi masyarakat modern juga disentuh Tamara lewat filosofi lokal gereja yang mulai luntur: “Iman Sehati Korban Tenaga”.

“Katong sebut Lateri Bersatu, tapi apakah katong benar-benar bersatu?” cetusnya retoris. “Ketika tembok-tembok rumah semakin tinggi built-in, apakah katong masih baku buang suara? 

“Karya malam ini termasuk penanaman anakan pohon di besok hari (Jumat, 31 Juli 2026), bukan cuma tentang menanam pohon secara fisik tapi tentang menanam kembali hubungan baik sesama manusia dan tubuh alam tempat kita menumpang,” tandasnya.

Tubuh sebagai Arsip Ekologis yang Terancam

Pertunjukan “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi” bergerak melampaui kerangka pertunjukan seni lokal. Karya ini beresonansi langsung dengan krisis ekologis global dan pergeseran lanskap perkotaan yang tengah melanda berbagai penjuru Indonesia.

Ketika pembangunan kota menggebu-gebu meratakan kawasan hijau demi poyek perumahan dan infrastruktur beton, yang lenyap kerap kali diukur sebatas hitungan metrik tanaman atau nilai ganti rugi finansial. Padahal, ada yang jauh lebih mendasar yang runtuh seketika: memori kolektif suatu komunitas.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button