Transformasi Masjid Raya Al-Fatah Ambon dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan Masyarakat Maluku

Oleh: Octovin Filyana Sanaky, Dita Aulita Nakul, Wa Ode Sindri
Masjid Raya Al-Fatah adalah salah satu masjid yang paling besar dan bersejarah di Maluku yang terletak di kota Ambon.
Masjid ini terkenal akan desain arsitektur yang megah dengan kubah besar berwarna emas, tujuh pintu masuk yang melambangkan tujuh pintu surga, serta interior yang dipenuhi oleh keindahan seni Islam yang menenangkan.
Selain fungsinya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga merupakan simbol toleransi dan kerukunan masyarakat Ambon yang kaya akan keragaman budaya. Inisiasi pembangunan Masjid Raya Al-Fatah berasal dari kebutuhan komunitas Islam di kota Ambon pasca kemerdekaan Indonesia.
Pada waktu itu, populasi penduduk dan migran semakin bertambah, sehingga Masjid Jami yang terletak di dekatnya tidak lagi dapat menampung jumlah jemaah yang semakin banyak, akibatnya pada tahun 1936, Stichting atau Yayasan Masjid Jami Ambon didirikan untuk mengelola pembangunan masjid yang lebih besar bagi umat Muslim di Ambon.
Sebelum dibangun Masjid Raya Al-Fatah Ambon, dulunya lingkungan masjid adalah taman dan tanahnya milik Pemerintah Daerah Dati II Maluku dibangunnya Masjid Raya Al-Fatah Ambon diserahkan oleh Panglima Militer Daerah Maluku Kolonel TNI Herman Pieters.
Kolonel Pieters adalah seorang pejuang kemerdekaan, Panglima Pertama Kodam XV Pattimura.
Kolonel Pieters adalah seorang tokoh yang berjuang untukmembebaskan hak tanah atas pemerintah daerah untuk mendirikan masjid Raya Al-Fatah Ambon.
Setelah melalui usaha dan perjuangan gigih dari Panitia, maka dengan Surat Keputusan tanggal 10 Juli 1962 Nomor : 18/Peperda Maluku/7/1962, Pihak penguasa Perang Daerah menunjuk dan menetapkan luas area tanah tempat pembangunan Masjid Raya Al-Fatah, meliputi kurang lebih satu hektar.
Tokoh-tokoh penting seperti Hamid Bin Hamid, Mohammad Amin Ely, dan Brigjen Polisi Johnny Anwar memiliki peran krusial dalam pembangunan masjid ini.
Selain itu, Perdana Menteri Indonesia, Ir. Djuanda Kartawidjaja, juga merupakan salah satu tokoh yang mendorong pembangunan Masjid Raya Al-Fatah saat mengunjungi Ambon di tahun 1962.
Beliau bersama pejabat daerah dan pemuka agama setempat mendorong pembangunan masjid yang lebih representatif dan luas untuk masyarakat Maluku.
Nama “Al-Fatah” diberikan langsung oleh bapak Ir. Soekarno ketika beliau meletakkan batu pertama untuk pembangunan masjid pada tanggal 1 Mei 1963.
Nama ini berasal dari kata “AlFath” yang berarti kemenangan, berkaitan dengan usaha untuk mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1975 dan menjadi simbol persatuan antarumat beragama di Kota Ambon, karena proses pembangunannya melibatkan kerja sama dari masyarakat yang berasal dari berbagai keyakinan.
Seiring waktu, Masjid Raya Al-Fatah berkembang tidak hanya sebagai tempat untuk beribadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah bagi masyarakat Maluku.
Beraneka aktivitas seperti pengajian, kajian Islam, buka puasa bersama, pelatihan bagi guru mengaji, layanan pendidikan (pendirian sekolah), pelayanan gedung Asari untuk berbagai kegiatan sosiall, layanan kesehatan, serta program pelatihan untuk remaja dilaksanakan di masjid ini.
Salah satu program utama adalah Presma (Pemuda Remaja Masjid), yaitu kegiatan yang bertujuan untuk melatih generasi muda supaya terhindar dari ancaman narkoba dan minuman keras serta mampu menjaga nilai-nilai moral dan sosial dalam komunitas.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Dosen Pengampu: Johan Pattiasina, S.Pd., M.A, Dr. Jenny Koce Matitaputty, M.Pd
Mata Kuliah: Jurnalisme dan Kepariwisataan Sejarah
Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pattimura
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



