Nanaku: Membaca Bahasa Alam di Pesisir Maluku Tengah
Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah
Oleh : Sam Usman Hatuina (jurnalis potretmaluku.id)
“Di bawah bayang-bayang perubahan iklim yang kian ekstrem, di mana badai datang tanpa permisi dan laut tak lagi bisa ditebak, masyarakat di pesisir Maluku Tengah menolak untuk sekadar menjadi korban.”
Di tengah ancaman bencana alam yang semakin meningkat, masyarakat Liang, Waai, dan Tial di Kecamatan Salahutu memiliki cara unik untuk mengurangi risiko bencana, yaitu “Nanaku” atau mengamati tanda-tanda alam. Mereka percaya bahwa alam memiliki bahasa sendiri yang dapat memberikan peringatan dini tentang bencana yang akan datang.
Mereka telah mengembangkan tradisi unik ini sejak dulu secara turun-temurun guna mengurangi risiko bencana dan meningkatkan keselamatan warga, bahkan di daerah yang rawan bencana. Bagi mereka, Nanaku bukan sekadar kebiasaan, melainkan sebuah kontrak sosial antara manusia dan penciptanya melalui perantara semesta.
Sore itu, seorang pria paruh baya terlihat di tepi pantai menikmati angin lembut yang membawa aroma tanah basah. Matanya mengarah ke ufuk timur, di mana awan-awan mulai berubah menjadi kanvas gelap bak sapuan kuas raksasa yang melukis langit dengan warna misterius.
Warna ungu tua yang berpadu dengan abu-abu monyet di cakrawala itu bukanlah pemandangan indah biasa; bagi mata yang terlatih, itu adalah sinyal bahwa tekanan udara sedang bergeser hebat.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membawa kesegaran jiwa. Lelaki tua itu seolah menjadi bagian dari alam, membaca tanda-tanda yang dikirimkan oleh langit. Beberapa perahu milik warga terlihat berjejer di tepian pantai.
Cuaca yang kurang bersahabat, kadang ada angin kencang disertai gelombang, kadang juga berubah tenang. Kondisi itu membuat menjadi sebab mereka ragu sampai tak bisa melaut.
Ketidakpastian ini menjadi hantu bagi dapur para nelayan, namun Nanaku memberikan mereka kepastian di tengah ketidakteraturan tersebut.
“Kalau mau melaut, biasanya katong (kita) ‘Nanaku’ (Mengamati) terlebih dahulu kondisi alam,” kata Abdullah Rolobessy, warga Tial sembari menunjuk ke laut. Jarinya yang legam dan kasar karena garam laut menunjuk ke arah gumpalan awan yang disebutnya sebagai ‘pintu angin’.
Awan gelap di ufuk barat seolah menjadi simbol perubahan, mengingatkannya bahwa setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru. Kondisi alam yang tak menentu memaksa warga yang setiap hari menggantung hidup dari hasil laut, harus beradaptasi dan mencari sumber lain.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



