Nanaku: Membaca Bahasa Alam di Pesisir Maluku Tengah
Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah
Dinamika ini memaksa masyarakat pesisir untuk memiliki kecerdasan ekologis yang lebih tinggi, dibanding masyarakat perkotaan yang terlalu bergantung pada aplikasi digital.
“Ada namanya musim angin barat, angin timur dan angin selatan. Dari situ kita sudah bisa tahu bahwa aman atau tidak kalau melaut,” ungkapnya.
Setiap musim membawa karakteristiknya sendiri, mulai dari jenis ikan yang muncul hingga arah arus bawah laut yang bisa menyeret perahu hingga ke perairan dalam.
Di tengah ketergantungan masyarakat perkotaan pada aplikasi cuaca dan peta digital, nelayan pesisir justru mengandalkan kecerdasan ekologis yang diasah oleh waktu.

Mengamati Cuaca, Menghindari Petaka
Cuaca yang mulai buruk, awan gelap, angin kencang dari arah barat disertai hujan, ombak tinggi, perilaku hewan yang berubah, seperti burung-burung di laut mulai bermain di pesisir, pertanda datangnya musim barat.
Burung-burung camar yang biasanya berburu di tengah laut, tiba-tiba terbang rendah dan hinggap di dahan-dahan pohon bakau; sebuah navigasi biologis yang menandakan bahwa di tengah samudera, badai sedang mengamuk. Kondisi itu memaksa nelayan lokal untuk menunda aktivitas melaut.
Pengetahuan tradisional itu menjadi tradisi bagi nelayan di negeri-negeri di Maluku, sebagai upaya meminimalisir bahaya bagi para nelayan yang melaut, bahkan juga nasib nelayan. Abdulah menyebut, kearifan lokal itu telah ada sejak dulu, dan hingga saat ini masih dipertahankan.
Di tengah gempuran teknologi GPS dan fish finder, Nanaku tetap menjadi referensi utama karena ia melibatkan rasa dan insting yang tidak dimiliki oleh mesin.
“Dari situ kita sudah bisa tahu, ini musim barat. Seperti sekarang, ini musim angin barat. Kalau tidak bisa melaut, kita beli ikan dari jibu-jibu (penjaja keliling),” katanya.
Siklus ekonomi mikro ini tetap terjaga, menunjukkan daya lenting masyarakat adat menghadapi krisis musiman.
Efradus Kalai (59 tahun), seorang nelayan di Negeri/Desa Waai yang sehari-hari melaut menangkap ikan, kini memilih untuk tetap di rumah, karena laut tidak bersahabat. Cuaca buruk telah berlangsung selama beberapa hari, membuat Efradus tidak bisa melaut.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



