Nanaku: Membaca Bahasa Alam di Pesisir Maluku Tengah
Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah
“Semoga laut akan kembali bersahabat dan memberi hasil yang baik,” ungkapnya sambil memandang ke laut yang masih bergelombang.
Pandangannya kosong ke ufuk, seolah sedang berdialog dengan penguasa lautan tentang kapan waktu yang tepat untuk kembali.
Bagi nelayan seperti Efradus, tidak melaut bukanlah menyerah, melainkan strategi bertahan hidup.
Sementara pada sisi Salahutu yang lain, Insan Awaludin (42 tahun), seorang perempuan pesisir di Dusun Tanjung Negeri Liang mengaku sudah puluhan tahun tinggal di pesisir pantai.
Fenomena cuaca ekstrim berupa angin kencang dan hujan lebat yang terbentuk dari sistem atmosfer atau yang disebut badai, serta gelombang tinggi hingga menyebabkan rob, menjadi langganan mereka di setiap tahun.

Insan telah melihat bagaimana garis pantai perlahan bergeser, memakan lahan depan rumahnya setapak demi setapak, sebuah bukti bisu dari kenaikan permukaan air laut global.
Kalau datang fenomena tersebut, nelayan di pesisir tak bisa lagi melaut, karena sangat berisiko terhadap keselamatan nelayan. Jika awan terlihat berbentuk gumpalan hitam disusul angin, sudah pasti disertai gelombang tinggi.
“Biasanya fenomena itu datang di musim barat seperti sekarang,” kata Insan. Bagi kaum perempuan pesisir, Nanaku juga berarti kesiapan domestik; menyimpan cadangan makanan dan memastikan anak-anak tetap aman di dalam rumah.
Jika tanda-tanda itu mulai muncul, masyarakat pesisir mulai mengantisipasinya, mencegah anak-anak bermain di pantai, nelayan tak lagi melaut, perahu-perahu nelayan yang berada di pantai diangkut ke darat agar tidak terbawa ombak, dan lainnya.
“Kalau tanda-tanda itu muncul, kita yang tinggal di pesisir ini yang sering mengingatkan tentang bahaya. Informasinya tidak dari pemerintah, tapi dari masyarakat pesisir yang saling mengabarkan. Info dari BMKG yang biasa kita ikuti hanya tentang gempabumi, tapi soal cuaca ekstrim itu dari sesama warga pesisir,” ungkapnya.
Kesenjangan informasi antara lembaga formal dan warga lokal ini, menunjukkan betapa pentingnya peran informan lokal dalam mata rantai keselamatan warga.
Namun pertanyaan besar mulai menggantung di udara: di tengah perubahan iklim yang mengacak musim dan tanda-tanda alam, seberapa lama bahasa lama ini masih bisa dibaca dengan akurat?(Bersambung)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



