Ketika Energi Muda Tersesat: Saatnya Menyiapkan Wadah di Tanah Maluku?
Jumat, 22 Agustus 2025. Kota Ambon, yang sebentar lagi usianya sudah setengah milenium, merayakan dirinya dengan tawa dan riuh gembira anak-anak.
Di tengah lapangan yang sesak oleh bocah-bocah SD dan SMP yang asyik main gasing dan tarik tambang, Wali Kota Bodewin M. Wattimena berdiri. Suaranya lantang, menembus keriuhan, membicarakan hal yang jauh dari gembira: tawuran.
“Jangan ada tawuran. Kita semua saudara, kita semua teman. Saling menyayangi,” pesannya. Sebuah kalimat yang manis, hampir klise, yang sering kita dengar dalam pidato-pidato formal.
Tapi di Ambon, kalimat itu menyimpan bobot yang lebih berat. Ia adalah sebuah pengakuan implisit bahwa luka lama belum benar-benar sembuh. Bahwa konflik kecil masih bisa meluas, seperti yang pernah terjadi di tragedi Hunuth, mengoyak-ngoyak kain persaudaraan yang rapuh.
Bodewin tahu, tawuran hanya membawa luka. Kerugian besar tak hanya menimpa pelaku, tetapi juga orang tua, sekolah, bahkan negeri asal mereka. Ia menekankan, energi muda lebih baik disalurkan ke hal-hal positif. Basket, voli, jukulele. Semua itu memberi manfaat, bukan kehancuran.
Nada suaranya makin keras saat menyinggung soal sanksi. “Kalau ada yang terlibat tawuran, keluarkan dari sekolah. Tidak boleh ada anak Ambon yang menjadikan tawuran sebagai kebiasaan,” katanya.
Jelas, lugas, dan mungkin terlalu sederhana. Tapi, di balik pernyataan itu, saya menangkap kesan, tersembunyi sebuah kekecewaan. Kekecewaan melihat energi muda yang seharusnya membangun, justru menghancurkan.
Pesan itu bukan hanya untuk siswa. Para guru pun diminta berani mengambil sikap. Jangan ragu memberi hukuman. Namun, menurutnya, akar persoalan tetap ada di rumah. Orang tua punya tanggung jawab paling besar.
“Fondasi yang kuat ada pada perhatian dan pengawasan dari rumah,” ujarnya. Hari itu, di antara tawa anak-anak yang bermain gasing dan tarik tambang, terselip pesan serius. Pesan tentang masa depan Ambon, tentang anak-anak yang harus dijauhkan dari jalan kekerasan.
Penyebab yang Lebih Dalam
Lalu, mengapa anak-anak kita tawuran? Apakah kurangnya pendidikan? Kurangnya doa? Atau memang ada sesuatu yang lebih mendasar yang kita lewatkan?
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



