AmboinaLingkungan

HUT ke-75 PGI: Bakti Sosial GMKI, Menanam Mangrove, Menanam Harapan

Di bawah sinar mentari yang memantulkan kehangatan di atas birunya laut Ambon, sebuah cerita baru tertulis di hamparan pasir Pantai Poka. Bukan sekadar kisah biasa, melainkan sebuah kisah tentang cinta, kepedulian, dan harapan yang hidup dalam aksi nyata.

Adalah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon, bersama Pemerintah Desa Poka dan Majelis Jemaat GPM Poka, memulai langkah kecil dengan dampak besar: membersihkan pantai dan menanam pohon mangrove.

Sebuah aksi yang dinilai tidak hanya menjadi perayaan ekologis, tetapi juga sebuah liturgi hidup, memperingati HUT ke-75 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Pantai Poka, saksi keindahan ciptaan Tuhan, kini juga menjadi saksi kesungguhan manusia dalam menjawab panggilan iman. Berhadapan dengan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, gerakan ini hadir sebagai seruan lantang untuk tidak tinggal diam.

Bukan hanya tentang memungut sampah atau menggali lubang untuk mangrove, tetapi tentang menciptakan warisan untuk generasi mendatang — warisan berupa alam yang lebih baik.

GMKI
Wakil Ketua Majelis Jemaat GPM Poka, Yus Labetubun (kiri), dan perwakilan dari Pemerintah Desa Poka, Polly Rengrengulu (kanan).(Foto: Istimewa)

Suara dari Pesisir: Sambutan yang Menggetarkan

Polly Rengrengulu selaku Perwakilan Pemerintah Desa Poka berbicara dengan penuh emosi, seolah suaranya menyatu dengan debur ombak.

“Menjaga pesisir bukan hanya tanggung jawab, tapi warisan bagi generasi mendatang. Pantai dan laut bukan sekadar hamparan air dan pasir, tetapi jantung kehidupan kita,” ujarnya.

Dengan ekosistem pesisir yang lestari, kata dia, kita menciptakan perlindungan alami terhadap bencana sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat.

“Saya mengajak seluruh warga untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari budaya kita. Bersama, kita bukan hanya menjaga pantai, tetapi membangun masa depan,” tuturnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua Majelis Jemaat GPM Poka Yus Labetubun berbicara dengan lembut, tetapi penuh ketegasan iman. “Iman yang hidup tidak hanya tercermin dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam tindakan nyata,” tandasnya.

Hari ini, kata Labetubun, kita tidak hanya menanam mangrove dan membersihkan pantai, tetapi kita sedang mewujudkan iman dalam aksi! Sebab, iman tanpa perbuatan adalah mati.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button