AmboinaLingkungan

HUT ke-75 PGI: Bakti Sosial GMKI, Menanam Mangrove, Menanam Harapan

“Upaya kita ini adalah bukti bahwa gereja bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga wadah yang memancarkan kasih dan kepedulian kepada dunia. Mari terus berjalan dalam iman yang memberi dampak bagi kehidupan dan lingkungan,” terangnya, dengan mata yang berkilat penuh semangat.

Sementara Pendeta Elliot Labonda, salah satu panitia HUT PGI, mengingatkan tentang urgensi krisis ekologi. “Ini bukan sekadar isu akademis. Ini adalah panggilan iman. Dengan bergerak hari ini, kita menyatakan bahwa gereja peduli, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat tindakan bersama yang nyata,” katanya.

Menurut dia, GMKI bersama Pemerintah Desa dan Jemaat GPM Poka telah menunjukkan bahwa kepedulian bukan hanya kata-kata, tetapi kerja bersama! “Semoga semangat ini terus menular dan menginspirasi banyak pihak untuk berkontribusi dalam pemulihan alam yang telah dipercayakan kepada kita,” harapnya.

Sedangkan, Apriansa Attapary, Ketua GMKI Cabang Ambon, menyentuh hati semua orang dengan visi ke depan. “Laut adalah jantung kehidupan kita. Tapi tanpa kepedulian, apa yang tersisa untuk generasi mendatang? Hari ini adalah awal. Mari kita lanjutkan perjuangan ini di berbagai titik Pulau Ambon. Kepedulian kita harus menjadi gerakan yang tidak pernah berhenti,” serunya.

Dia menyebutkan, sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, tanpa kepedulian, kita mungkin menghadapi ekosistem yang rusak dan laut yang tidak lagi memberi kehidupan.

Karena itu, aksi hari ini bukan akhir, tetapi awal! GMKI berkomitmen untuk melanjutkan upaya ini di berbagai titik di Pulau Ambon. “Mari kita jadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai gerakan yang berkelanjutan,” imbaunya.

HUT ke-75 PGI

Menanam Harapan, Menuai Masa Depan

Langkah demi langkah, diiringi doa dan harapan, pantai yang sebelumnya sunyi kini bergemuruh dengan semangat kebersamaan. Sampah plastik yang teronggok di pasir perlahan hilang, digantikan dengan bibit-bibit mangrove yang ditanam penuh kasih. Setiap bibit adalah simbol — bukan hanya simbol hijau, tetapi simbol iman yang hidup dan bergerak.

Di setiap tarikan napas para relawan, ada pesan yang tersirat: bumi adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga, bukan dirusak. “Berkaryalah dan peliharalah,” firman dalam Kejadian 2:15, kini bergema dalam setiap tindakan di Pantai Poka. Gerakan ini adalah langkah kecil dalam perjalanan panjang untuk menyembuhkan luka-luka yang diakibatkan oleh kelalaian manusia terhadap ciptaan-Nya.

Namun, ini bukan akhir. Bibit-bibit mangrove itu akan tumbuh, mengakar, dan menjadi perlindungan alami bagi pesisir. Tetapi pesan yang tersisa jauh lebih dalam: ini adalah awal dari perjalanan panjang.

Perjalanan yang mengajak setiap orang untuk melihat dunia sebagai rumah yang harus dijaga bersama. Gereja, pemerintah, dan masyarakat bersatu dalam harmoni yang indah — sebuah paduan yang tidak hanya berbicara, tetapi bekerja.

Melalui semangat HUT ke-75 PGI, pantai ini menjadi saksi bahwa iman bukan sekadar kata-kata. Iman adalah gerakan, aksi nyata, dan refleksi kasih yang membawa perubahan. Karena bumi ini adalah anugerah, dan kita semua dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia dan garam bagi kehidupan.

Saat mentari terbenam di cakrawala, Pantai Poka tetap bersaksi: 135 anakan mangrove berhasil ditanam 70 mahasiswa dari GMKI bersama sejumlah warga sekitar.

Hari ini, cinta kepada Tuhan dan ciptaan-Nya telah dinyatakan dalam tindakan nyata. Semoga api kepedulian ini terus menyala, membawa kita pada dunia yang lebih baik, lebih hijau, dan lebih penuh harapan.(TIA)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button