Pendapat

Tragedi Hunuth dan Luka Kolektif: Mengapa Pendidikan Damai Harus Kembali Dimulai Sekarang

PENDAPAT

Jika kita berhenti sejenak, ada wajah-wajah yang perlu dilihat lebih dekat: seorang ayah yang kehilangan anaknya, seorang siswa yang kini menjadi tersangka dengan label “pembunuh” di usia belasan, seorang ibu yang berdiri di depan rumahnya yang tinggal arang, dan sekian banyak balita terpaksa tidur pada tempat seadanya, dan anak kecil yang malam itu tidur di pengungsian dengan rasa takut. 

Inilah wajah-wajah yang seharusnya mengingatkan kita bahwa tawuran bukan sekadar “urusan anak sekolah”, melainkan bara yang bisa membakar seluruh desa.

Hunuth memberi pelajaran pahit: satu tusukan bisa menjalar menjadi belasan rumah yang hilang. Satu perkelahian remaja bisa menyeret satu kampung ke jurang konflik. Sedihnya, pelaku penikaman yang memicu aksi masa, justru bukan berasal dari kampung yang kena imbas dibakar.

Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan ini terus berulang? Atau mulai menatap serius ke akar masalah dari ruang kelas yang kehilangan pengawasan, keluarga yang lelah, hingga masyarakat yang terlanjur permisif pada kekerasan?

Cerita Hunuth belum selesai. Ia masih bergema di malam-malam sunyi warga yang kehilangan rumah, di hati orang tua yang menyalakan lilin untuk anaknya yang pergi terlalu cepat. Mungkin, juga di kepala kita semua: sampai kapan kita akan rela membiarkan nyawa remaja dan rumah tangga jadi abu hanya karena kita telat merelai sebuah tawuran? 

Jika saja kita mau tergerak, mungkin cerita seperti yang disampaikan warga Hunuth ini tidak akan pernah kita dengar: “Kamareng pagi papa pi ojek tu, samua ada bae-bae. Pulang ojek lai, rumah su tabakar. Rumah yang dong bakar itu, hasil dari beta papa ojek tada ujang deng panas, tahang lapar dari pagi sampe sore, mancari sabarang-sabarang asal par biking rumah tampa anak-anak sucu batado… Sioo…dong seng ada hati paskali.”

Lalu ketika kita bicara perdamaian, ia bukanlah peristiwa sesaat yang berhenti pada sebuah kesepakatan. Ia adalah jalan panjang yang menuntut kesetiaan, bahkan ketika dunia tampak tenang di permukaan. Yang kerap terlupakan oleh kita, adalah bahwa damai tidak pernah berdiri sendiri; ia harus dipelihara dengan ingatan, dengan kesadaran, dan dengan pendidikan hati.

Generasi yang lahir setelah tahun 2000-an, tidak lagi menanggung trauma yang dialami orang tua mereka, akibat tragedi kemanusiaan berkepanjangan di Maluku sejak 1999. Mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup di bawah bayang blokade jalan, berhari-hari hanya ada mie instan sebagai pengganjal rasa lapar, atau melihat ruang kelas sunyi karena sekolah terhenti.

Namun justru di situlah paradoksnya: mereka mungkin mewarisi kebencian, tanpa pernah menyentuh penderitaan yang melahirkannya. Kebencian yang kosong dari pengalaman nyata itu ibarat api tanpa bara tak terlihat, tetapi bisa meledak kapan saja.

Karena itu, menjaga perdamaian berarti lebih dari sekadar menghindari pertikaian. Ia adalah upaya membangun kesadaran lintas generasi, agar yang lahir di masa damai tidak hanya mewarisi luka, melainkan belajar memahami makna pengorbanan. 

Di titik inilah Pendidikan Damai menemukan relevansinya: bukan sekadar mata pelajaran, melainkan cara hidup, sebuah jalan sunyi untuk memastikan bahwa damai tak berhenti sebagai utopia, melainkan nyata dalam keseharian.(Embong Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button