Toyota Innova dan Cerita di Balik Pemilihan Ketua KPID Sulawesi Selatan, Periode 2011-2014
PENDAPAT

Namun, muncul pertanyaan di benak saya: Apakah jabatan, fasilitas, atau nama yang saya cari bila nanti terpilih? Bukankah secara fisik, saya tidak cukup kuat bila berkendaraan jauh dengan medan yang berkelok-kelok? Bukankah kepala saya bermasalah, selalu nyeri, setiap kali naik pesawat terbang?
Saya memang beberapa kali mual, bahkan muntah dalam perjalanan jauh, terutama bila melewati poros Camba-Bone dan Enrekang-Toraja. Padahal, di masa SMA, saat masih di Ambon, saya pernah jadi kondektur angkot.
Kepala saya juga sering nyeri ketika naik pesawat terbang. Sehingga sempat membuat saya memutuskan bakal tak lagi naik pesawat.
Kondisi ini termasuk yang jadi bahan renungan dan pertimbangan saya, manakala nama saya mengemuka sebagai bakal ketua. Konsekuensi logis dan tanggung jawab akan mengharuskan saya bepergian dengan mobil atau pesawat untuk menjalankan tugas.
Singkat kata, saya luruskan niat.
Hingga tibalah hari itu, saat pelantikan KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014.
Surat Keputusan (SK) penetapan pengangkatan komisioner terpilih ditandatangani Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Dr Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH, pada tanggal 31 Januari 2011.
Dalam SK itu tertera nama-nama yang akan dilantik untuk segera menjalankan UU Penyiaran dan P3-SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran, dan Standar Program Siaran).
Selain saya, ada Alem Febri Sonni, akademisi Unhas, juga Andi Fadli, S.Sos, Andry Mardian, SE dan Rahma Saiyed, SS, S.Kom, ketiganya orang media. Selain itu juga ada Dr H Sukardi Weda, SS, M.Hum, M.Pd, M.Si, dosen UNM, dan Sumeizita Suarman, SS, dari unsur media penyiaran.
Agenda pelantikan kami baru dilakukan sehari kemudian, atau tepatnya pada tanggal 1 Februari 2011. Sehingga memungkinkan, lobi dilakukan oleh mereka yang mau maju sebagai ketua. Dan itu memang terjadi. Sah-sah saja.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



