Pendapat

Syahrul Yasin Limpo dan Moment of Books

PENDAPAT

Momen penyerahan buku berikutnya terjadi pada tanggal 25 Februari 2017 di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Jalan Sungai Tangka No 31, Kota Makassar. Saat itu, pengurus Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS) belum lama terbentuk. Lembaga yang dipimpin Dr H Ajiep Padindang, sebagai Ketua Umum, dan Yudhistira Sukatanya, sebagai Ketua Harian, saat itu tengah mengadakan audiensi untuk menyampaikan visi lembaga dan rencana-rencana program strategisnya.

Ada dua buku kumpulan puisi, yang saya serahkan usai pertemuan, yakni “Tuhan Tak Sedang Iseng” dan “Mantra Cinta”. Begitu buku saya berikan, saya ceritakan secara ringkas latar kehadiran buku itu dan tema yang diusung masing-masing buku. Saya sampaikan juga bahwa gambar sampul kedua buku itu merupakan vignette karya saya.

Momen lainnya, terjadi saat saya diundang Upi Asmaradhana menghadiri perayaan HUT ke-8 KabarMakassar.com di pelataran Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar, tanggal 29 Agustus 2017. Saat itu, saya tak cuma hadir, tapi juga membacakan puisi berjudul Kabar Makassar, sebagai kado ulang tahun bagi portal website tersebut.

Saya yakin ini buku istimewa bagi beliau. Betapa tidak. Buku berjudul Iwan Tompo, Maestro Lagu Makassar, itu merupakan kisah hidup sahabatnya, Iwan Tompo. Buku ini saya tulis bersama Wandi Daeng Kulle, penyiar radio Gamasi FM, yang juga karib Iwan Tompo.

Syahrul Yasin Limpo
Foto: Dok. Penulis

Penyanyi lagu-lagu Makassar itu, punya hubungan baik dengan SYL. Dia menciptakan lagu “Kelong Pangngu’rangi”, khusus untuk SYL, yang kini menjabat sebagai Menteri Pertanian RI, dalam Kabinet Indonesia Maju. Atas bantuan SYL, Iwan Tompo, ketika sakit, dipindahkan dari Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, ke Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. Saya sempat membezoek Iwan Tompo yang tengah menjalani perawatan, sebelum pelantun lagu Ati Raja itu berpulang.

Buku-bukulah yang mengantar saya bisa bertemu Syahrul Yasin Limpo. Saya memang menggunakan buku sebagai medium diplomasi dan cara saya mengkomunikasikan diri saya. Sementara, saya mengingat SYL lewat buku-buku yang ditulisnya, yang tesimpan rapi di rak-rak buku saya–mungkin juga dalam memori kolektif masyarakat Sulawesi Selatan. (*)

Gowa, 3 Oktober 2023

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button