Pendapat

Syahrul Yasin Limpo dan Moment of Books

PENDAPAT

Saya ingat persis, kutipan kalimat yang saya kemukakan saat itu. Kalimat yang saya nukilkan dari ungkapan Toni Morrison bahwa jika ada sebuah buku yang ingin Anda baca, tetapi buku tersebut belum ada yang menulisnya, maka Andalah yang harus menulis buku itu. Kutipan kalimat dari penerima Nobel Kesusastraan, tahun 1993 ini, mengalirkan bahasan saya setelahnya. Saya juga mengomentari tampilan visual buku, berupa cover, desain dan tata letak.

Harus diakui, tidak banyak pemimpin yang gemar menulis dan menerbitkan buku. SYL termasuk yang berada dalam deretan pemimpin yang langka itu. Untuk buku SYL Way saja, ada beberapa seri. Belum lagi buku-buku dengan tema lain, seputar pemerintahan, politik, demokrasi, kepemimpinan, dan sebagainya. Sekadar menyebut dua judul di antaranya adalah Jangan Marah di Muara (2005) dan Berhentilah Mengaduk Samudra (2006).

Saking banyaknya buku-buku yang ditulis dan tentang SYL, tidak heran bila ada SYL Corner di Perpustakaan Provinsi Jalan Sultan Alauddin No 7, Tala’salapang, Makassar. Itulah mengapa, saat itu saya menyarankan agar SYL Centre mengkaji visi dan gagasan-gagasan Syahrul Yasin Limpo. Apalagi sebagai seorang pamong praja, pemikiran SYL itu akan sangat berguna bagi ilmu pengetahuan dan dalam praktik birokrasi pemerintahan kita.

Momen ikut diajak membahas buku orang nomor satu di Sulawesi Selatan, ketika itu, semakin tidak terlupakan lantaran ada amplopnya hehehe. Lumayan pula. Begitulah rezeki… Maksud hati hanya datang sebagai penghormatan atas undangan yang diberikan, rupanya malah diajak ikut nimbrung sebagai pembahas buku.

Syahrul Yasin Limpo
Foto: Dok. Penulis

Syahrul Yasin Limpo dan Buku

Saya terpikir menulis momen-momen bersentuhan dengan SYL terkait buku, setelah melihat beberapa foto di laptop saya. Dalam foto-foto itu, saya menyerahkan buku kepada SYL di berbagai kesempatan, sembari menjelaskan buku yang saya berikan tersebut. SYL selalu terlihat antusias menerima buku dan mendengar penjelasan singkat saya. Setelah itu, tentu saja, cipika-cipiki. Sesuatu yang terasa istimewa bagi saya.

Momen saya menyerahkan buku kepada Bupati Gowa dua periode (1994-2002) itu, pertama terjadi pada tanggal 22 September 2016 di ruang kerjanya di Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Jenderal Urip Sumoharjo. Saat itu, saya ikut dalam rombongan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan yang mengajak beberapa tokoh literasi melakukan audiensi dengan gubernur. Hadir antara lain, Kepala DPK Provinsi Sulawesi Selatan, Drs H Abd. Rahman, MM, pustakawan Syahruddin Umar, aktor dan mantan birokrat, Dr Ir H Syahriar Tato, serta penulis buku, Bachtiar Adnan Kusuma.

Buku-buku yang saya serahkan, saat itu, antara lain “Mozaik Penyiaran”, kumpulan tulisan saya yang mengulas ragam tema, mulai dari jurnalisme hingga nasionalisme media penyiaran. Juga tema dinamika penyiaran lokal dan penyiaran pro publik. Buku lainnya, yakni “7342 Mengawal 115 Pulau”, yang mendokumentasikan kinerja Kapolres Pangkep, AKBP Mohammad Hidayat. Buku ini saya susun bersama Maysir Yulanwar, yang juga mengerjakan desain dan tata letaknya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button