Tujuannya yakni, meningkatkan pembangunan di pulau-pulau selain Jawa, Bali dan Madura, di antaranya melalui transmigrasi. Para tranmigran itu pun membudidayakan Padi di tanah Luwu, hasil panennya kemudian dinikmati warga setempat. Sehingga sejak saat itu, berlahan-lahan warga masyarakat di tanah Luwu pun beralih mengkonsumsi nasi.
Di tanah Luwu Sagu yang di olah menjadi Papeda disebut dengan Kapurung dan Sagu lempeng disebut dengan Dange, namun agak lembek beda dengan Sagu lempeng di Maluku yang keras.
Bungkusan sagu dari daun Sagu di Bumi Sawerigading itu juga disebut tumang oleh warga setempat sama dengan penyebutannya di Maluku. Begitu pula saat saya ke Manado, Sulawesi Utara beberapa tahun lalu, juga dijual Sagu lempeng ukuran kotak korek api kayu, yang dibungkus dengan daun Sagu kering. Dimana dijajakan oleh warga masyarakat setempat sebagai oleh-oleh, yang dibawa pulang para tamu ke daerah mereka dari Bumi Nyiur Melambai itu.
Begitu pula, ada Limpiang Sagu sejenis Serabi, yang berasal dari Minangkabau-Sumatera Barat, yang dibuat dari pati Sagu. Selanjutnya Pencok Sagu yang berasal dari Karangasem-Bali dan Lombok-Nusa Tenggara Barat (NTB), yang juga dibuat dari pati Sagu. Serta ada pula Sagu Bakar (Putak) yang berasal dari Malaka-Nusa Tenggara Timur (NTT), yang juga dibuat dari pati sagu. Jika dilihat hampir di semua daerah pulau-pulau besar, dan kecil di tanah air memiliki makanan khas atau pokok, yang terbuat dari pati Sagu.
Ini menunjukkan Sagu sesuai zamannya dahulu adalah pangan di kawasan Asia Tenggara dan Nusantara. Jika demikian muncul pertanyaan, apa sebenarnya makanan pokok warga masyarakat, yang mendiami Kepulauan Maluku ini ?
Bagi saya Sagu bukanlah makanan pokok warga masyarakat yang mendiami Kepulauan Maluku, melainkan ikan adalah makanan pokok warga masyarakat yang mendiami Bumi Seribu Pulau ini. Pasalnya, ikan sangat determinan dengan konsumsi warga masyarakat di Kepulauan Maluku.
Oleh karena itu, apapun makanan yang lezat di konsumsi oleh warga masyarakat di Kepulauan Maluku, baik itu berupa sagu, papeda, nasi, ubi, jagung, enbal, sinole dan lain sebagainya.
Dimana, jika mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang tinggi sumber karbohidrat itu, tanpa disertai dengan ikan terasa hambar rasanya. Dalam bahasa Melayu Ambon dikatakan “seng smangat makan lai barang seng ada ikan”. Benar atau tidaknya, silakan mencoba makan tanpa ikan dijamin tidak lezat rasanya.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



