Kuliner

Risol Tuna Khas Ambon: Kisah Inspiratif Sari di Balik Calicali yang Menggugah Selera

DI MALUKU, ada satu tradisi yang sulit dilewatkan: basnup. Aktivitas duduk sore sambil menyeruput teh hangat, ditemani aneka camilan tradisional, adalah momen istimewa yang melekat dalam keseharian orang-orang Maluku. Dari ampas tarigu, onbijtkoek, hingga pisang goreng dan sukun goreng, semua membawa cerita dan rasa khas yang menggoda.

Namun, zaman terus berjalan, dan kuliner pun ikut berevolusi. Salah satu inovasi yang mencuri perhatian saya adalah Risol Tuna, camilan unik yang memadukan tradisi dan cita rasa modern. Saya pertama kali menemukannya saat pulang ke Ambon, dan camilan ini segera mencuri hati saya.

Awal Mula Calicali: Ide Sederhana dari Rumah

Risol Tuna ini adalah buah tangan dari Dyah Sari Elly, atau yang akrab disapa Sari. Ia memulai usaha rumahan bernama *Calicali* pada tahun 2019, tepat saat pandemi mulai menghantam dunia.

“Awalnya cuma iseng. Waktu itu kantor cuma buka tiga kali seminggu, sisanya WFH. Daripada bengong, saya pikir kenapa nggak cari tambahan? Akhirnya mulai jualan,” cerita Sari, saat kami berbincang santai di Poruvis Café, Ambon, Jumat, 3 Januari 2025.

Risol Tuna
Risol Tuna Calicali buatan Dyah Sari Elly.(Foto: Dok. Pribadi)

Menu pertama yang ia tawarkan lewat Calicali adalah roti canai. Namun, siapa sangka, risol tuna buncis yang ia coba jual berikutnya, justru mendapat respons luar biasa dari pelanggan.

“Risol pertama saya pakai bumbu kari. Rasanya agak Timur Tengah, sedikit pedas. Tapi ternyata ada yang kurang cocok dengan rasa pedasnya. Akhirnya saya coba varian creamy tuna yang terinspirasi dari topping pizza. Anak saya suka banget waktu itu, jadi saya pikir, kenapa nggak coba bikin versi risolnya?” Sari menjelaskan.

Risol tuna ini unik karena menggunakan ikan tuna segar dari nelayan lokal di kawasan Airsalobar, Ambon. Sari ingin memastikan bahan baku yang ia gunakan adalah yang terbaik.

Perjuangan di Tengah Pandemi

Meski awalnya usaha berjalan lancar, kondisi ekonomi keluarga membuat Sari harus berjuang lebih keras. “Di 2018 sampai 2020, ekonomi memang berat. Penghasilan utama kurang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, jadi usaha ini benar-benar jadi penyelamat,” ungkapnya.

Sistem preorder menjadi strategi andalannya di masa awal. “Saya buat risol sesuai pesanan yang masuk, karena prosesnya panjang: bikin isiannya, kulitnya, sampai menggulung satu per satu. Tapi waktu itu sistemnya online“, jadi meskipun orang jarang keluar rumah, pesanan tetap mengalir,” kenangnya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button