Pada 25 November 2023 terjadi konflik antara dua kubu organisasi masyarakat di Bitung, yaitu kelompok yang menggelar aksi solidaritas terhadap Palestina dan kelompok masyarakat adat Minahasa yang sedang melaksanakan parade budaya.
Konflik Bitung ini tentu merupakan dampak dari konflik Israel-Palestina yang berpengaruh pada polarisasi. Bagaimana tidak, atribut kedua negara itu bahkan digunakan secara terang-terangan seolah memamerkan rivalitas keduanya.
Bahkan media memperkuat itu sebagai konflik massa pro-Palestina vs. pro-Israel. Kendati demikian, beberapa pihak berupaya agar konflik tersebut tidak diarahkan pada isu keagamaan. Kendati ada narasi keagamaan, itu adalah misinterpretasi terhadap penyebaran informasi. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena yang terjadi di media sosial adalah representasi kehidupan nyata. Keduanya berkelindan dan tidak terpisah.
Dalam percakapan Whatsapp dengan seorang kawan, kami mendiskusikan bagaimana potensi serupa yang dapat saja terjadi di beberapa tempat, termasuk Ambon sebagai kota pasca konflik (post-conflict society).
Polarisasi semacam ini sangat rentan melahirkan konflik sosial. Dalam konteks yang lebih luas, hal serupa juga diaksentuasi oleh Joan Esteban dan Laura Mayoral (2011) sebagai imbas dari adanya jarak antar personal atau kelompok (inter-personal or inter-group distances).
Mengingat Ambon sebagai salah satu wilayah pasca-konflik, yang meski tidak lagi terlihat kekerasan langsung (direct violence), tapi menyimpan beragam kekerasan kultural (cultural violence) yang kian mengakar. Salah satunya adalah segregasi sosio-religius. Cultural violence semacam ini—dengan memperhatikan analisis Johan Galtung—diibaratkan sebagai bom waktu yang dapat aktif kapan saja. Ambon sangat mungkin memiliki potensi serupa.
Oleh karena itu, dibutuhkan keseriusan, kecermatan, dan kehati-hatian dalam merespons isu Israel-Palestina untuk meminimalisir polarisasi berbasis agama. Karena, sekali lagi, konflik Israel-Palestina memang bukanlah konflik agama, namun ia berpotensi menjadi ancaman hubungan antaragama.
Isu kemanusiaan perlu dikedepankan dalam merespons konflik ini. Saya teringat Bertrand Russel yang dikutip oleh Dosen saya (Pak Leo). Ia menyatakan bahwa: “War doesn’t determine who is right, only who is left” (Perang tidak menentukan siapa yang benar, melainkan siapa yang tersisa).(*)
Sumber:
Biger, G. (2008). The Boundaries of Israel—Palestine, Past, Present and Future: A Critical Geographical View. Israel Studies, 13(1), 68–93. https://doi.org/10.2979/isr.2008.13.1.68
Coleman, P. T. (2011). The Five Percent: Finding Solutions to Seemingly Impossible Conflicts. Public Affairs New York. http://www.nber.org/papers/w16019
Esteban, J., & Mayoral, L. (2011). Ethnic and Religious Polarization and Social Conflict. http://digital.csic.es/handle/10261/35507
Konyukhovskiy, P. V., & Grigoriadis, T. (2020). Proxy Wars & the Israeli-Palestinian Conflict. Defence and Peace Economics, 31(8), 904–926. https://doi.org/10.1080/10242694.2019.1690942
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



