BuruHukum & Kriminal

Penetapan Tersangka dalam Kasus PETI Gunung Botak dinilai Janggal

potretmaluku.id – Tim Hukum Marwan, tersangka kasus dugaan tindak pidana pertambangan dan mineral di Gunung Botak menilai ada kejanggalan dalam penetapan Marwan sebagai tersangka dalam kasus Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di Gunung Botak, Kabupaten Buru.

Kuasa hukum, Muh. Rizal Tuharea mengatakan, penetapan Marwan sebagai tersangka merupakan bentuk diskriminasi. Karena Marwan disangkakan sebagai donator hanya berdasarkan bukti chat transferan rekening yang di dapatkan dari tersangka Lukman Lataka.

Padahal, saat dimintai keterangan oleh ET yang merupakan penyidik pembantu, Lukman Lataka sendiri telah mengaku bahwasannya transferan itu merupakan bukti pembayaran utang-piutangnya kepada Marwan yang tidak ada kaitannya dengan kasus tersebut.

Sayangnya, ET memaksakan agar Marwan harus tetap dijerat berdasarkan bukti chating tersebut. “Kami menganggap ini perilaku diskriminasi terhadap klien kami,” ujar Tuharea kepada wartawan di Ambon, Selasa (20/12/2022).

Pihaknya menduga ada dendam pribadi antara penyidik pembantu (ET.red) dengan tersangka Marwan. Karena ET pernah dilaporkan oleh Marwan dalam kasus lain.

Menurutnya, penetapan Marwan sebagai tersangka telah menabrak aturan, dan penyidik telah melanggar kode etik profesi. “Untuk itu, kami telah melaporkan Penyidik ke Propam Polda Maluku,” terangnya.

Bukan itu saja, lanjut Tuharea, penetapan Marwan sangat kontradiktif dengan keadaan yang ada di jalur H, Desa Wamsait. Karena disana sampai dengan saat ini masih banyak aktivitas PETI.

“Disana banyak aktivitas PETI, kok cuma klien kami yang ditangkap. Ini seperti direkayasa,” terangnya.

Tuharea berharap, masalah tersebut dapat menjadi perhatian Kapolda Maluku supaya memberikan teguran kepada anak buahnya, agar supaya kemudian dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka itu harus betul-betul dilakukan berdasarkan aturan yang berlaku, bukan bertindak sewenang-wenang.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button