Telusur Sejarah

Mengenal Negara Curacao Unikameral, Tempat Asal Suami Kopral Costavina “Cosje” Ayal

IN MEMORIAM

Negara unikameral Curacao menggunakan tiga bahasa: Papiamentu (campuran dari bahasa Belanda, Inggris, Sepanyol dan Portugis), bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Bahasa Papiamentu mirip bahasa Virgin di Papua Nugini atau Kreol di Afrika, yang merupakan pengucapan bahasa lokal berasal dari bahasa asing.

Perdana Menteri bertindak penuh atas pemerintahan dan urusan dalam megerinya sendiri. Sedangkan urusan pertahanan dan keamanan menjadi tanggung jawab dari Kerajaan Belanda. Kepala negara Curacao adalah Raja Belanda. Sedangkan untuk di Negara Curacao ada seorang gubernur. Perdana menteri bertugas menyusun Dewan yang bertugas menyusun kebijakan pemerintah.

Baca JugaMengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru Papua Barat

Sementara itu, seorang Menteri Curacao tinggal di Belanda dan mewakili negaranya dalam pertemuan Dewan Menteri Belanda. Sebab, pemerintahan Negara Curacao bersifat. Parlemen unikameral alias negara bagian yang beranggotakan 21 orang yang dipilih secara proporsional untuk masa jabatan tidak lebih dari lima tahun.

Karena di bawah Kerajaan Belanda, semua sistem pendidikan, ekonomi dan peradilan dipengaruhi juga oleh Kerajaan Belanda. Perekonomian Curacao pada umumnya bergerak dalam bidang pelayaran, jasa logistik, jasa keuangan internasional, penyulingan minyak dan pariwisata.

Satu-satunya kampus yang terkenal disini adalah University of Curacao yang dapat menampung dua ribu mahasiswa. Beberapa akademi lainnya juga menawarkan aneka jurusan yaitu kedokteran, bahasa, seni rupa, keperawatan, kepolisian dan banyak lainnya.

MENGENAL COSTAVINA “COOSJE” AYAL

Nama Coosje Ayal sangat terkenal dalam Perang Dunia II di Manokwari. Nama lengkap gerilyawan perempuan asal Titawai, Nusalaut (Maluku) tersebut adalah Costavina Ayal. Coosje dilahirkan pada 15 April 1926 dari pasangan Christoffel Ayal dan Josmina Nahuway. Oleh sebab itu tidak heran bila ditulis di belakang namanya, Ayal atau Nahuway.

Negara Curacao
Costavina “Coosje” Ayal.(Foto: Dok. Penulis)

Sejak kecil, Coosje ikut dengan paman dan bibinya yang ditugaskan sebagai pegawai negeri sipil (ambtenaar) di Manokwari Selatan, khususnya di Ransiki dan Momi Waren. Oleh sebab itu tidak mengherankan pula bila kemudian Coosje mengikuti pendidikan Belanda dan mahir berbahasa Belanda.

Ketika pada awal April 1942 didengar berita bahwa Jepang telah menaklukan Belanda, dan tiba di Teluk Doreh (Manokwari) pada 12 April 1942, maka paman Coosje diperintahkan untuk menyembunyikan senjata, makanan dan amunisi di hutan serta membentuk Milisi Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).

Baca Juga: Telusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari

Bersama 62 orang lainnya, Coosje keluar masuk hutan untuk bergerilya menghadapi tentara Jepang. Selama 31 bulan, Coosje berperilaku sebagai tentara dan seolah laki-laki. Selama tujuh hari, ia pernah berjalan kaki ke markas mereka di Wasirawi, kini di Distrik Masni, Kab. Manokwari. Kawasan perbukitan itu kini terkenal dengan cadangan emasnya.

Beberapa kali kelompok Coosje menggempur dan digempur tentara Jepang. Oleh sebab itu, untuk memudahkan mobilisasi dan pergerakan, kelompok itu kemudian dibagi dua. Apalagi setelah mereka memiliki pengalaman diserang serdadu Jepang yang mengakibatkan banyak yang tewas.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button