Pendapat

Merempahi Maluku dan Dunia Untuk Perdamaian Sejati

PENDAPAT

Oleh: Pendeta Rudy Rahabeat (Pebelajar Antropologi)


Spicing the world for peace. Merempahi dunia untuk perdamaian. Itulah frasa yang digulirkan Pendeta Jacky Manuputty, provokator damai dari Maluku yang kini jadi ketua umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Malam itu berkumpul sejumlah aktivis lintas iman dan pemberdayaan masyarakat di sudut kota Ambon. Hadir pula Nia Syarifuddin, Koordinator Aliansi Bhineka Tunggal Ika (ANBTI). Mbak Nia datang lagi ke Ambon untuk berbagi bersama Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam acara Konsultasi Studi Gerejawi (KSG) yang berlangsung di gereja Pniel Wayame Ambon. Ia panel bersama Pdt Jacky tentang strategi menghadapi polikrisis di Indonesia dan Maluku. 

Malam itu hadir Dr Abidin Wakanno, rekan provokator damai Pdt Jacky yang kini jadi Rektor Universitas Islam Negeri AM Sangadji Ambon. Hadir pula Pdt Lies Marantika, Lucy Peilouw, Oliva Lasol, Else Syauta, Ruth Saiya, Ulfa Tuahuns, Jemy Putirulan, jurnalis senior Zairin “Embong” Salampessy, Fuad Azuz dan saya (Rudy Rahabeat).

Saya dan bang Fuad pernah mengikuti Sekolah Pengelolaan Keragaman (SPK) yang dibuat CRCS UGM Yogyakarta, dimana Mbak Nia merupakan salah satu fasilitatornya. 

Pada kesempatan yang  berharga itu berbagai kenangan, informasi dan ide digulirkan. Semuanya bermuara pada upaya kreatif bina damai yang berkelanjutan. Pdt Jacky menyebutkan bahwa dulu karena rempah-rempah (spice) orang Eropa datang ke Maluku dan Indonesia. Rempah menjadi jalur untuk kolonisasi. Namun kini kita perlu memberi makna jalur itu menjadi jalur perdamaian. “Kita perlu merempahi berbagai sudut Maluku dengan rempah-rempah damai, juga Indonesia dan dunia”.

Rempah-rempah itu adalah aktor-aktor yang berkomitmen kuat menjaga dan merawat perdamaian. Rempah-rempah itu adalah nilai-keutamaan hidup seperti kepedulian, belarasa, kasih dan persaudaraan. Semua rempah-rempah itu dipadukan untuk memberi aroma dan rasa bagi kehidupan.

Dr Abidin memberi beberapa gagasan, salah satunya perlunya kegiatan menjelang perayaan Hari Perdamaian Internasional pada 21 September nanti.

“Saya akan datang kembali ke Ambon, saya datang membawa harapan bahwa Ambon dan Maluku tetap menjadi laboratorium perdamaian bagi Indonesia dan dunia” ungkap Mbak Nia Syarifuddin sambil tersenyum. 

Pertemuan malam itu lebih sebagai reuni. Saling berjumpa dan berbagi canda tawa. Namun ada juga empati dan komitmen untuk merespons kondisi insiden di Ambon beberapa waktu lalu dan di beberapa tempat di Maluku.

Ada tekad untuk terus merajut agenda-agenda bersama untuk berkontribusi bagi upaya bina damai di Maluku. Perdamaian tidak sekedar tidak terjadinya konflik (negative peace) tetapi sebuah proses merawat hidup bersama yang adil, setara, saling percaya dan saling menopang secara berkelanjutan.

Perdamaian perlu pelibatan semua pihak, baik pemerintah, lembaga swadaya, aktivis, mahasiswa, pemuda, perempuan dan masyarakat akar rumput. Perdamaian juga dilakukan dalam jaringan yang meluas di aras lokal, nasional dan global demi hidup bersama yang sejahtera bagi semua. 

“Saatnya kembali menggairahkan kerja bina damai di Maluku” tulis bang Embong di laman fesbuknya merespons status Pdt Jacky yang antar lain menulis “Percakapan ringan menyangkut kelangsungan perdamaian berujung pada komitmen untuk kembali menggairahkan kerja bina damai di Maluku dan mengontribusikannya kepada Indonesia”.

Ya, kerja-kerja bina damai harus terus disemai oleh semua pihak. Rempah-rempah harus terus diracik dan mewangi dan memberi rasa yang gurih bagi umat manusia. Damai harus selalu ada, sebab tanpa damai, dunia serasa hambar dan tiada berguna. Salam damai !(RR).

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button