Kolaborasi Cerdas 3 Tungku
Masalah pengelolaan sampah tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Kolaborasi tiga tungku–masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta–sangat diperlukan. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebenarnya telah membuka banyak akses program, dengan tipologi dan kapasitas berbeda-beda sesuai kebutuhan daerah.
Namun, untuk menjangkau target yang lebih luas, dibutuhkan keterlibatan sektor swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Perusahaan-perusahaan seperti PLN, Pertamina, dan lembaga keuangan memiliki peluang besar untuk mendukung program komunitas melalui pendanaan, pelatihan, dan pemberian alat pengolah sampah.
MCB menambahkan, mengandalkan anggaran pemerintah saja di tengah tekanan efisiensi saat ini tentu bukan pilihan bijak. Itulah mengapa konsep proyek percontohan skala kecil berbasis dana CSR menjadi alternatif yang sangat menjanjikan. Lewat pendekatan ini, komunitas tidak perlu memulai dengan skala industri besar. Proyek kecil yang tepat guna dan terukur justru bisa memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
Dana CSR, menurut MCB, bisa digunakan untuk membangun fasilitas dasar seperti tempat daur ulang komunitas, pelatihan teknis, atau pembelian alat pencacah sampah plastik. Jika digabungkan dengan akses pinjaman usaha mikro seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kini bisa didapat tanpa agunan, maka proyek daur ulang berbasis komunitas bisa tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan di Kota Ambon.
Ekonomi Sirkular
Pelatihan yang diikuti dengan antusias oleh anak muda dari komunitas pengolah sampah, organisasi pemuda dan Angkatan Muda GPM, menurut MCB juga mendorong pendekatan ekonomi sirkular, di mana sampah tidak hanya dibuang, tetapi diproses kembali agar memberikan nilai ekonomis baru.
Hal ini menjadi penting di tengah kondisi keuangan daerah yang terbatas. Dengan memanfaatkan dana KUR, masyarakat bisa memulai usaha kecil berbasis pengelolaan sampah, dan hasilnya bisa digunakan untuk mengembalikan pinjaman sekaligus meningkatkan taraf hidup.
“Model usaha ini juga mengedepankan tanggung jawab finansial. Artinya, bukan sekadar hibah atau bantuan gratis dari pemerintah, tetapi sebuah model bisnis yang mendorong masyarakat—khususnya anak muda—untuk bertanggung jawab dan membangun masa depan mereka sendiri,” tandasnya.
MCB optimis transformasi sampah menjadi energi bukanlah impian utopis, karena di Ambon, harapan itu sedang dibentuk, dimulai dari langkah-langkah kecil namun nyata. Melalui pelatihan, dukungan pemerintah, keterlibatan swasta, dan semangat komunitas, maka sampah plastik bisa menjadi peluang, bukan hanya beban.
“Yang kita lakukan hari ini adalah investasi untuk masa depan anak-anak Ambon. Dengan kota yang bersih, ramah lingkungan, dan berdaya ekonomi, generasi mendatang bisa tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” demikian Mercy Barends. (JAY)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




