Oleh: Ronny Loppies (Direktur Ambon Music Office, Focal Point Ambon UNESCO City of Music, dan Regional Ambassador of Asia Pacific UNESCO Cities of Music)
Kota-kota di seluruh dunia kini dihadapkan pada tantangan untuk tumbuh dan berkembang tanpa mengorbankan identitas dan keberlanjutan.
Sebuah terobosan baru datang dari Forum Internasional Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan Berbasis Budaya dan Kreativitas 2025 yang diselenggarakan di Wuhan, Cina.
Forum yang mempertemukan para ahli dan praktisi ini meluncurkan serangkaian Solusi Perkotaan yang inovatif, berfokus pada Pariwisata Perkotaan Berkelanjutan Berbasis Budaya.
Inisiatif ini bukan muncul tiba-tiba. UNESCO, bekerja sama dengan UN Tourism dan UN-Habitat, telah merintisnya sejak Forum Urban Dunia ke-12 (WUF12) di Kairo, Mesir.
Dalam acara tersebut, kolaborasi ketiga lembaga ini mengangkat tema sentral: “Pariwisata Perkotaan: Kebijakan dan Tata Kelola untuk Kota yang Lebih Berkelanjutan, Inklusif, Kreatif, dan Tangguh.” Pengalaman dan diskusi dari forum tersebut menjadi landasan kokoh bagi pengembangan solusi baru yang kini diluncurkan di Wuhan.
Solusi Perkotaan yang baru ini menyediakan kerangka kerja kebijakan yang terpadu, menempatkan budaya sebagai inti dari pariwisata berkelanjutan.
Lebih dari sekadar teori, panduan ini menekankan pentingnya memanfaatkan kekayaan warisan budaya, kreativitas, dan pengetahuan lokal untuk memicu pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperkuat kohesi sosial, dan merayakan keberagaman.
Pada saat yang sama, solusi ini juga mendorong keberlanjutan lingkungan, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa sejalan dengan pelestarian alam.
Pariwisata yang transformatif tidak mungkin berjalan tanpa partisipasi semua pihak. Solusi ini secara tegas mendorong keterlibatan berbagai aktor perkotaan, mulai dari pemerintah daerah dan masyarakat, hingga sektor swasta dan pengunjung.
Kolaborasi ini menyoroti peran sentral pariwisata dalam membangun kota yang lebih dinamis, berkeadilan, dan tangguh di masa depan.
Bagi setiap kota, implementasi solusi ini harus disesuaikan dengan konteks lokal. Para focal point di berbagai kota kreatif UNESCO diharapkan dapat mengeksplorasi, mengadaptasi, dan menerapkan panduan ini sebagai alat praktis. Dengan kepemimpinan yang kuat dan inovasi yang berkelanjutan, kota-kota dapat benar-benar berkembang melalui budaya.
Pada akhirnya, kita semua harus menegaskan kembali komitmen bersama untuk menempatkan budaya sebagai pilar utama dalam membangun masa depan perkotaan yang berkelanjutan.
Jaringan Kota Kreatif UNESCO adalah wadah yang ideal untuk mewujudkan visi ini, di mana pertukaran ide dan kolaborasi menjadi kunci untuk membangun kota-kota yang tidak hanya maju, tetapi juga berjiwa.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



