Menteri KKP Sebut Penangkapan Ikan Terukur Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Pesisir
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV Budisatrio Djiwandono mengapresiasi langkah KKP menggelar FGD mengupas rancangan regulasi kebijakan penangkapan ikan terukur sehingga bisa dipahami lebih menyeluruh oleh masyarakat.
Dia juga mengakui penangkapan ikan berbasis kuota telah berjalan di sejumlah negara dan terbukti berhasil.
“FGD kita pada hari ini diselenggarakan atas dasar banyaknya tanggapan, keluhan langsung dari pada nelayan kecil yang disampaikan ke Komisi IV di dapil masing-masing,” ujarnya.
Dan juga menjadi keresahan banyak pihak, lanjut dia, yang menganggap penangkapan ikan terukur ini lebih mementingkan kepentingan pemodal atau korporasi besar.
“Padahal setelah kita diberi penjelasan nyatanya RPP yang menyangkut perikanan terukur ini tidak demikian,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Anggota Komisi IV Suhardi Duka, yang menilai kebijakan penangkapan terukur sebagai solusi pemerataan pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir, serta dapat meningkatkan kualitas nelayan di Indonesia menjadi lebih modern.
“Setelah saya melihat dan mempelajari kebijakannya, saya melihat itu pure untuk Indonesia, bukan untuk orang per orang atau bangsa lain. Pengelolaan ikan di kawasan bukan Jawa sentris, saya sangat setuju,” ucapnya.
Kemudian, lanjut Suhardi, kita dapat mengukur tangkapan kita, berapa banyak ditangkap, dimana ditangkap, kapan ditangkap dan dibawa kemana.
“Saya kira ini adalah satu harapan, dan memang Indonesia sudah harus berubah, tidak boleh lagi menjadi nelayan tradisionil, harus kita tingkatkan kelas nelayan kita menjadi nelayan yang lebih modern, dengan demikian pendapatannya juga akan lebih besar,” urainya.
Dalam FGD tersebut turut dibahas kesiapan infrastruktur teknologi untuk mendukung implementasi penangkapan ikan terukur berbasis kuota di Indonesia, di antaranya timbangan online dan Integrated Maritime Intelligent Platform yang baru-baru ini diresmikan.(*/TIA)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



