Setelah melakukan reportase dari Jalan Sultan Alauddin, saya menyetop angkot, untuk melihat situasi di sepanjang jalan yang saya lalui. Beberapa kali saya naik turun angkot untuk melakukan reportase secara on the spot. Tentara dan polisi terlihat berjaga-jaga di kawasan-kawasan bisnis. Sekolah-sekolah yang berada di jalur-jalur utama terlihat tidak ada yang beraktivitas. Laporan saya selalu dari telepon umum koin ke studio untuk meng-up date suasana kota. Era itu, saya belum punya fasilitas telepon genggam.
Untuk menghindarkan rumahnya atau rukonya di rusak, warga menggunakan berbagai cara. Ada yang menggantung sajadah di bagian luar rumah agar terlihat massa, ada pula yang menuliskan bahwa dirinya Muslim atau Islam. Di Jalan Kakatua, saya dapati ada yang menulis pada lembaran karton “Mantan Pemain PSM”, dan di Jalan Veteran Selatan tertulis “Keluarga TNI”. Semua itu dimaksudkan agar mereka tidak menjadi sasaran amuk massa.
Makassar hari itu benar-benar mencekam. Massa bergerak melempari toko-toko milik warga keturunan Tionghoa di sejumlah titik: Jalan Veteran, Jalan Dr Sam Ratulangi, Jalan Sulawesi, Jalan Irian, Jalan Penghibur, hingga Jalan Nusantara. Tak ayal, aksi pengrusakan, penjarahan bahkan pembakaran terjadi.
Selain 5 korban tewas, termasuk Anny dan Benny Karae, kerugian diperkirakan mencapai Rp17,5 miliar. Angka itu berasal dari akumulasi 1.535 ruko yang rusak, serta 77 mobil dan 155 unit sepeda motor yang hangus dibakar.
Sekjen Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Baharuddin Lopa bersama dua anggotanya, Soegiri dan Koesparmono Irsan, turun melakukan investigasi pada 19 September 1997. Komnas HAM menyimpulkan, kerusuhan bukan saja semata-mata dipicu oleh kasue Anny Mujahidah, penyebabnya juga karena adanya kesenjangan sosial (sulsel.idntimes.com).
Di tengah rusuh massa itu, ada sosok yang dalam istilah Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen Agum Gumelar, sebagai “mutiara”. Agum menyebut Jubaidi Saleh sebagai mutiara karena sikapnya yang arif merespons kematian anaknya. Dalam wawancara dengan stasiun TV, ayah dari Anny Mujahidah itu meminta warga menghentikan aksi anarkisnya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



