Larvul Ngabal Masuk Kurikulum: Maluku Tenggara Perkuat Identitas Budaya Kei

potretmaluku.id – Di bawah langit yang mulai memudar pada Senin pagi itu, rombongan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bergerak dari satu makam leluhur ke makam lainnya.
Ziarah dalam rangka Hari Nen Dit Sakmas itu bukan sekadar ritual tahunan. Di ujung rangkaian doa dan tabur bunga, Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun mengumumkan langkah yang lebih besar: memasukkan hukum adat Larvul Ngabal ke dalam kurikulum pendidikan lokal.
Gagasan itu ia sampaikan setelah memimpin ziarah ke makam Rat Ohoi Vuur di Desa Letvuan, kemudian ke Desa Danar, Siran Siryen di Desa Elaar, hingga ke Makam Nen Dit Sakmas di Desa Semawi.
Menurut Thaher, nilai-nilai Larvul Ngabal adalah fondasi yang telah menopang kehidupan masyarakat Kei jauh sebelum hadirnya perundang-undangan modern.
“Mungkin kegiatan ini dianggap seremonial biasa, tapi buat saya tidak. Warisan Larvul Ngabal adalah bekal hidup orang Kei sebelum hadirnya undang-undang positif. Saya khawatir kalau tidak diperingati, suatu saat nilai-nilai itu bisa bergeser,” ujar Thaher.
Ia menegaskan, nilai adat itu harus dipelajari secara sistematis oleh generasi muda, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Upaya ini dianggap penting untuk menjaga identitas dan etika sosial masyarakat Kei di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan budaya.
Thaher juga menyoroti peran Nen Dit Sakmas, perempuan yang turut meletakkan dasar hukum adat Kei dan menetapkan lambang kerbau sebagai simbol Larvul Ngabal yang masih digunakan hingga kini.
“Larvul Ngabal telah menjadi perekat orang Kei jauh sebelum masuknya agama-agama. Itu sebabnya ia tidak boleh hilang,” katanya.
Menjawab pertanyaan tentang relevansi hukum adat pada era digital, Thaher mengutip pesan Raja Maur Ohoiwut, J.P. Rahail, yang mengingatkan agar masyarakat Kei tidak tergerus kemajuan teknologi hingga melupakan adat.
“Kemajuan teknologi luar biasa. Tapi kalau kita tidak pegang hukum ini, sopan santun akan hilang. Kita tidak lagi tahu batasan,” ujarnya.
Ia kemudian menyampaikan salah satu filosofi hidup Kei: Yaa ken te sasa rok i, ma sasa te sasa rok i—ungkapan yang mengajarkan kerendahan hati dan kehati-hatian dalam bersikap.
Thaher juga menyinggung kehadiran Tugu Larvul Ngabal di Langgur sebagai ikon budaya. Ia berharap tugu itu bukan sekadar monumen, melainkan pemantik kegiatan budaya yang bertaut dengan dunia pendidikan.
“Sudah saatnya Larvul Ngabal dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal supaya anak-anak Kei sejak kecil mengenal adatnya sendiri,” tuturnya.
Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang merawat akar budayanya. Langkah memasukkan Larvul Ngabal ke dalam pendidikan formal disebutnya sebagai investasi sosial jangka panjang untuk menjaga identitas masyarakat Kei di masa mendatang.(TIA)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



