PendapatSeram Bagian Timur

Kritik, ASN, dan Media Sosial: Refleksi Bupati SBT dalam Halal Bihalal yang Menggugah

PENDAPAT

Potensi yang Masih Tertidur

Di balik sejumlah peringatan dan ajakan Bupati Fachri, terselip pula panggilan untuk membangkitkan potensi daerah. Ia menekankan pentingnya setiap ASN menggunakan semua kemampuannya demi kesejahteraan masyarakat.

Kalimat itu menggugah hati tua Pak Usman (bukan nama sebenarnya), seorang ASN pensiunan yang duduk di kursi tamu undangan. Ia mengangguk pelan.

“Saya dulu ikut menyusun program irigasi kecil di Werinama. Kalau semua potensi digerakkan, SBT bisa jadi lumbung pangan Maluku,” katanya penuh harap.

Namun kenyataannya, banyak potensi lokal yang masih tertidur. Sektor pertanian belum terkelola maksimal. Infrastruktur pendidikan dan kesehatan masih timpang. Dan dalam ruang-ruang kecil kantor OPD, masih banyak ASN yang lebih takut pada atasan daripada mencintai tugasnya.

Rakyat Masih Menanti, Janji Tak Boleh Redup

Pidato itu selesai. Mikrofon dimatikan. Para ASN mulai bersalaman dan bercengkerama, namun bagi sebagian warga, kalimat-kalimat yang diucapkan Fachri masih bergema. Kritik adalah harapan dalam bentuk lain. Dan ketika pemimpin mulai mendengarkan, secercah terang tampak di ujung lorong panjang birokrasi.

bupati sbt
Bupati Seram Bagian Timur, Maluku, Fachri Husni Alkatiri.(Foto: Tim Media Bupati SBT)

Namun perubahan sejati tak lahir dari pidato. Ia tumbuh dari tindakan dari bagaimana kritik diproses menjadi kebijakan, dari bagaimana suara-suara kecil di desa dijadikan kompas, dan dari bagaimana ASN menjadi pelayan, bukan sekadar pegawai.

Di ujung halaman kantor bupati, Siti berdiri sebentar, memandang langit. Ia tidak langsung pulang. Ada rasa yang tertinggal antara percaya dan ragu. Tapi hari itu, ia merasa lebih didengar. Mungkin esok, ia akan kembali ke sekolahnya dengan semangat baru.

Karena mungkin, akhirnya, para pemimpin mulai mengerti bahwa kritik bukan ancaman, melainkan undangan untuk berjalan bersama rakyat.

Dinamika politik lokal bukan hanya soal siapa yang berkuasa atau program apa yang digagas. Ia adalah kisah manusia tentang harapan para guru, tangis nelayan yang kehilangan perahu, dan anak-anak yang memimpikan ruang kelas yang tidak bocor.

Ketika seorang bupati mulai menyebut kritik sebagai bagian penting dari pembangunan, itu bukan sekadar gestur politik. Itu adalah pintu kecil yang terbuka menuju kemungkinan baru.

Mungkin belum sempurna. Tapi mungkin, dari Seram Bagian Timur, kita bisa belajar: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mendengarkan.(Embong Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button