Kritik, ASN, dan Media Sosial: Refleksi Bupati SBT dalam Halal Bihalal yang Menggugah
PENDAPAT
ASN dan Dilema Digital
Di sudut-sudut ruang kerja yang sunyi, para ASN kini tak hanya berhadapan dengan berkas dan rapat mereka juga harus bergulat dengan dunia maya yang tak kenal waktu.
Kritik tak lagi datang dalam bentuk surat resmi atau forum diskusi, melainkan menyerbu lewat notifikasi di layar ponsel.
Facebook, WhatsApp group, hingga akun-akun anonim di X (dulu Twitter), kerap menjadi ladang persepsi, pujian, atau hujatan yang tajam menusuk.
Di situlah dilema digital muncul: bagaimana melayani dengan tenang ketika ruang kerja telah dipenuhi bisik-bisik dari dunia maya?
Bupati SBT, Fachri Husni Alkatiri, dengan mata yang tajam namun suara yang tenang, menyuarakan kegelisahan itu di hadapan ratusan ASN saat Halal Bihalal. “Jangan suka meladeni isu-isu yang beredar di media sosial,” ucapnya penuh makna.

Bukan karena beliau menolak kritik, justru sebaliknya. Ia tahu betul bahwa di balik setiap ujaran pedas, sering tersembunyi keresahan rakyat yang belum terjawab.
Tapi Fachri juga tahu, bahwa ASN adalah manusia biasa yang bisa lelah, bisa goyah, jika tak dibekali daya tahan dan pemahaman yang kuat.
Dalam dunia digital yang serba cepat, ASN dituntut untuk hadir bukan hanya sebagai pelaksana tugas, tetapi juga sebagai komunikator yang bijak dan penjaga etika pelayanan publik.
Di tengah derasnya arus disinformasi, hoaks, dan sentimen politik yang dibungkus kritik, mereka berjalan di tali yang rapuh: jika terlalu reaktif, bisa jatuh; jika terlalu diam, dianggap tak peduli.
Maka seruan Bupati SBT bukan sekadar imbauan, tapi pengingat tentang tanggung jawab yang lebih dalam bahwa menjadi ASN hari ini berarti menjadi penjaga nurani di antara riuhnya algoritma dan tekanan digital yang tak henti.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



