Komisi III DPRD Maluku Fokus pada Infrastruktur dan Penanganan Sungai
potretmaluku.id – Ruang Komisi III DPRD Maluku kembali menjadi venue diskusi penting terkait pembangunan infrastruktur pada Rabu (6/8/2024). Suasana rapat tampak serius ketika berbagai stakeholder berkumpul membahas persoalan-persoalan krusial yang membutuhkan penanganan segera.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Maluku, Mumin Refra, tampak memimpin diskusi dengan penuh perhatian. Pengalamannya dalam mengawasi sektor infrastruktur memberikan perspektif mendalam tentang kompleksitas permasalahan yang dihadapi wilayah kepulauan seperti Maluku.
Para peserta rapat yang hadir mencakup representasi dari berbagai instansi terkait, menunjukkan keseriusan dalam menghadapi tantangan infrastruktur yang multidimensional. Koordinasi antar-lembaga menjadi kunci dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks ini.
Komisi III DPRD Provinsi Maluku menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku, Balai Wilayah Sungai (BWS), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku. Kehadiran ketiga instansi strategis ini menunjukkan pentingnya koordinasi dalam penanganan infrastruktur wilayah.
RDP tersebut membahas berbagai persoalan infrastruktur dan penanganan sungai yang dinilai perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Agenda pembahasan mencakup isu-isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat dan keselamatan publik.
Diskusi berlangsung intensif dengan melibatkan pertukaran informasi teknis dan analisis mendalam tentang kondisi infrastruktur di berbagai wilayah. Para peserta tampak antusias dalam menyampaikan data dan rekomendasi untuk perbaikan sistem infrastruktur.
Beberapa agenda utama yang dibahas dalam RDP mencakup lokasi-lokasi strategis yang membutuhkan penanganan segera. Penanganan Sungai Wayare di Negeri Suli, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi salah satu fokus utama karena dampaknya terhadap masyarakat sekitar.
Kondisi Jembatan Kawanua di Seram Selatan, Kabupaten Maluku Tengah, juga mendapat perhatian khusus mengingat perannya sebagai infrastruktur vital yang menghubungkan antarwilayah. Kerusakan atau gangguan pada jembatan ini dapat berdampak signifikan terhadap mobilitas masyarakat.
Sementara itu, penanganan Sungai Tambillouw di Kabupaten Maluku Tengah turut menjadi agenda penting. Ketiga lokasi ini dipilih berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya terhadap kepentingan publik.
Selain tiga lokasi utama tersebut, masalah serupa di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) juga turut menjadi fokus dalam rapat. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan infrastruktur tidak terbatas pada satu kabupaten saja, melainkan tersebar di berbagai wilayah.
Mumin Refra dalam kesempatan tersebut menegaskan pentingnya respons cepat dari pihak Balai Wilayah Sungai maupun Dinas PUPR. Menurutnya, kecepatan respons menjadi kunci dalam mencegah kerusakan yang lebih parah dan meminimalisir dampak terhadap masyarakat.
“Kami minta agar pihak balai dan dinas terkait segera turun tangan. Identifikasi masalahnya dengan baik agar penanganan tidak justru menimbulkan persoalan baru,” tegas Refra dengan nada yang menunjukkan urgensi.
Permintaan untuk identifikasi yang menyeluruh ini mencerminkan pendekatan yang hati-hati dan berbasis data. Refra tampaknya memahami bahwa penanganan yang tergesa-gesa tanpa analisis yang tepat justru bisa menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks.
Penekanan pada identifikasi akar masalah juga menunjukkan komitmen untuk mencari solusi jangka panjang, bukan sekadar perbaikan sementara yang bersifat tambal sulam.(TIA)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



