Pendapat

Ketika Negara Menyerah, Rakyat Menangis: Di Mana Tanggung Jawab Kepala BTN Manusela?

PENDAPAT

Tapi ketika nyawanya mungkin tergantung di antara tebing dan kabut Binaiya, negara justru memilih menutup tangan, menutup mata, bahkan menutup hati.

“Pemimpin konservasi” yang menghitung personel lebih penting daripada manusia. Sungguh, ini bukan sekadar keputusan birokratis. Ini adalah kegagalan moral.

Ketika masyarakat adat menunjukkan bagaimana seharusnya manusia memperlakukan manusia lain, dengan hormat dan empati seorang kepala balai justru menyampaikan pesan sebaliknya: “Kami tidak bertanggung jawab.”

Apakah karena Firdaus bukan pejabat, bukan tokoh, bukan pesohor? Sehingga ia tak cukup penting untuk diperjuangkan lebih lanjut? Atau karena pencarian tak bisa dipotong anggaran seperti proyek pengadaan?

Jika benar seperti yang disindir Khairus Afruz Salampessy: “Tempatmu bukan di Maluku,” maka sesungguhnya ini bukan hanya soal Deny Rahadi. Ini tentang sistem yang terlalu nyaman untuk tidak peduli. Sistem yang tidak punya mekanisme tanggap darurat untuk sebuah kawasan ekstrem seperti Binaiya, tapi sibuk mencetak brosur promosi pariwisata.

Mari kita pikirkan: seandainya yang hilang adalah seorang menteri, atau kerabatnya pejabat pusat, apakah BTN akan tetap “minim personel”? Atau justru menggelar karpet merah dan mengerahkan helikopter?

Mungkin kita terlalu berharap. Tapi justru di titik inilah, cerita ini menjadi penting untuk terus dihidupkan. Karena selama nyawa manusia masih bisa diabaikan dengan alasan administrasi, maka kita semua sedang berjalan di tepian jurang yang sama dengan Firdaus, tanpa ada jaminan bahwa akan ada tangan negara yang menjangkau saat kita jatuh.

Gunung Binaiya tetap berdiri. Menyimpan Firdaus entah di mana. Masyarakat adat tetap mencari, tak kenal lelah. Tapi negara, yang mestinya ada di barisan terdepan, justru melangkah mundur dan menghilang di balik kabut formalitas.

Lantas, kita harus bertanya:
Apakah negara hanya hadir saat uang masuk, dan menghilang saat nyawa dipertaruhkan?
Atau… barangkali kita sudah terlalu sering berharap pada institusi yang tak lagi tahu apa itu makna “hidop orang basudara”?

Cerita ini belum selesai. Dan mungkin, baru saja dimulai.(Embong Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button