Ambon Dolo-dolo

Joged Kadayo, Ada “Anjing Aer” di Pesta

AMBON DOLO-DOLO

Joged kadayo ini diiringi lagu-lagu melayu, atau lagu Minang. Jogednya seng aneh-aneh, biasa sa. Lebe mirip orang goyang maju-mundur, lalu sabantar tukar posisi. Kalo tadinya laki-laki ada di sabala kanan, bisa baganti posisi ka kiri. Tapi itu seng serentak dilakukan. Tergantung masing-masing pasangan joged. Iko goyang pung sadap sa.

Di acara-acara anana muda era itu, lia dong ajojing itu asyik paskali. Ada cha cha, disco, wals, deng hustle. Yang paling heboh itu waktu demam break dance. Karena pengaruhnya satu paket: musik, goyangan, deng gaya dandanannya. Beta su tulis akang di Ambon Dolo-Dolo.

Budaya global ini dibawa antara lain oleh film, musik dan media massa. Salah satunya, film “Saturday Night Fever” yang dibintangi John Travolta, tahun 1977. Film ini disebut-sebut mempopulerkan musik disko ke seluruh dunia. Soundtrack film ini berupa lagu-lagu Bee Gees, menjadi lagu soundtrack terlaris sepanjang masa. Film “Saturday Night Fever” antara lain diputar di bioskop Olympic Theatre, di masa itu.

Jauh sebelum itu, bangsa Eropa, dari Portugis, Spanyol, deng Belanda juga bawa pengaruh budaya negaranya bagi masyarakat Maluku, termasuk di Ambon. Coba ale perhatikan dangsa atau tarian yang dimainkan oleh jujaro (pemudi) deng mungare (pemuda) sebagai tarian pergaulan atau tarian penjemput tamu. Salah satunya, dangsa katreji, yang diiringi alunan musik biola, suling bambu, ukulele, tifa, karakas, deng laeng-laeng. Selain itu, ada Tari Orlapei, deng Tari Lenso. Tarian orang Maluku, pada umumnya, itu selalu berpasangan.

Carita soal berpasangan, beta jadi inga pesta dansa. Pesta dansa itu kadang seng jauh-jauh, dong biking di rumah saja, saat ada tamang yang ulang tahun. Beta parna pi pesta ulang tahun tamang skola, yang ada acara dansanya. Setting tampa dudu untuk pesta dansa, dong ator baku muka, cowok deng cewek. Bagitu masing-masing su dapa pasangan, dong mulai dangsa.

Dari acara itu, beta perhatikan, o ternyata orang pung gaya dansa itu ada macam-macam. Ada yang badangsa dengan badang bagoyang slow iko irama lagu. Tapi ada juga yang kaya cuma badiri sa di tampa, dengan goyangan badan seadanya. Yang bagini ini, parangpuang basandar ka dada laki-laki, sambil bapolo. Laki-laki balas dengan melingkarkan tangan di pinggang pasangannya itu. Romantis paskali. Apalagi lampu ruangan dong biking agak redup.

Ada juga yang dangsa deng gaya, di mana satu tangan dilingkarkan di pinggang pasangan, sedangkan tangan satunya bertemu dengan jari-jari yang saling bergenggaman. Gaya lainnya, perempuan melingkarkan kedua tangannya di leher pasangan dansanya, sementara lelaki memeluknya dengan melingkarkan tangan di pinggang si perempuan. Intinya, ada banyak gaya. Seng samua pasangan badangsa dengan posisi badan yang rapat. Tergantung kenyamanan dorang dua yang dangsa saja. Tapi inga, ale harus tetap sopan. Jang langsung bakrep. Bisa-bisa dapa palungku. Ale tau to, itu tu“katupa Ambon” hehehe.(*)

Makassar, 19 Januari 2024

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Rusdin Tompo
Penulis, Rusdin Tompo.(Foto: Dokumentasi Pribadi)

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button