Imperial Japanese Navy (IJN) menggunakan pesawat: 202 Kokutai (A6M Zero), 153 Kokutai, 311th Hikotai (A6M3 Zero/A6M5 Zero), 732 Kokutai (G4M1 Betty), 753 Kokutai (G4M1 Betty). Sedangkan Japanese Army Air Force (JAAF) Divisi VII menggunakan pesawat: 59th Sentai (Ki-43), 61st Sentai (Ki-49 Helen), 24th Hiko Sentai (24th Flying Regiment), 1st Chutai (Ki-43-II Oscar), 34th Sentai (Ki-48), 59th Sentai (Ki-43-II Oscar detachment), 70th Dokuritsu Chutai (Ki-46 Dinah), 73rd Dokuritsu Chutai (Ki-51 Sonia), 45th Sentai (Ki-45 Nick), 75th Sentai (Ki-48 Lily), 25th Special Base Unit (G4M Betty and Ki-57 Topsy transports).
Pesawat tempur (fighter), pesawat pembom (bomber) dan pesawat angkut (transporter) itu ada yang khusus didatangkan dari Sumatra, ada juga yang dari Malang. Selain disiagakan di Babo, pesawat itu juga ada yang kemudian dikirim ke lokasi lain seperti Wakde, Biak dan Hollandia (Jayapura). Bisa dibayangkan, pada saat itu Babo dipenuhi dengan pesawat-pesawat Jepang.
Baca Juga: Telusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari
Sekutu Membombardir Babo dan Sekitarnya (1943-1944)
Dengan strategi “lompat katak” (leapfrog strategy), Jenderal MacDouglas kemudian merencanakan penyerangan terhadap pertahanan Jepang di Babo. Tentu saja, penyerangan itu bukan semata fokus ke Babo, melainkan juga pertahanan Jepang di tempat lainnya. Artinya, serangan pesawat Sekutu itu menyasar Manokwari, Ransiki, Moemi dan terakhir Babo.
Sekutu menggunakan pesawat A-20, A-26, B-24, B-25, P-40, P-47 dan P-47N Kittyhawks. Jumlah pesawat yang dikerahkan untuk menggempur Biak, Ransiki, Moemi dan Babo secara serentak diperkirakan mencapai ratusan pesawat. Sebab, dalam sekali serangan ke target sasaran, pesawat yang dikerahkan ada yang berjumlah satu, sembilan, 19, 20 bahkan sekaligus 170 buah pesawat.
Bila dicermati, sejak 7 Februari 1943 hingga 5 November 1944 itu ada sebanyak 65 kali serangan udara. Sasarannya, selain landasan pacu (airstrips) juga menyasar perkampungan, gudang persenjataan, penyimpanan bahan bakar (avtur), hanggar, dermaga (jetty) serta fasilitas pendukung pertahanan Jepang lainnya. Selama 22 bulan serangan itu, ribuan ton bom pesawat (aircraft boms) dijatuhkan dari udara.
Baca Juga: Mengenal Negara Curacao Unikameral, Tempat Asal Suami Kopral Costavina “Cosje” Ayal
Tiga buah pesawat Sekutu pun jatuh ditembak senjata otomatis anti serangan udara (anti-aircraft) milik Jepang. Ketiga pesawat itu adalah P-38J 42-104359, P-40 Kittyhawks A-29568 dan P-38J 43-28516. Lokasi jatuhnya ketiga pesawat itu berada di sekitar landasan pacu Babo. Randy Ogg, seorang pilot sipil pun memberikan gambaran mengenai bekas-bekas pesawat tersebut.
“I spent most of 1976 in the area near Babo. I was flying for an Indonesian company. We were contracted to Sun Oil Company to support their drilling rig and geophysical exploration in the area, and operated from the tiny island of Tugumawa in Arguni Bay. Sun Oil drilled three dry holes there and abandoned their lease. I would like to visit the area again. We had a base camp at the Kaimana Airstrip.
I was able to spend a half day visiting Babo Airfield. I still have 32 color prints and negatives that I took during my visit to Babo late in 1976. Some of the aircraft were still sitting up on their wheels. Those are probably the ones that have been removed by collectors. I can remember that there was an extensive grassy area to the west of Babo that was not rain forest. From the air we could distinctly see the outlines of 2 or 3 other airfields out there. I don’t remember seeing any aircraft or other equipment on those airfields.
The area was a fascinating place to work, but was infamous for its virulent malaria. The airstrip had recently been repaved. The only WWII junk we found around there was an artillery piece on the shoreline. I examined it and saw that it was of American manufacture, so the airfield probably changed hands later in the war.”

Kepanikan yang Melanda Babo pada Perang Pasifik (1942-1944)
Seorang yang lahir pada 1946 dan kini memiliki marga Alkatiri menceritakan, bahwa kepanikan hebat melanda penduduk Babo. Di Babo seolah terjadi kiamat, baik saat dibombardir Jepang, apalagi oleh Sekutu. Penduduk berlarian kesana-kemari menyelematkan diri. Bahkan, ada yang bersembunyi di rawa-rawa atau mangi-mangi. Selain, menjadi sasaran gigitan nyamuk juga incaran buaya.
“Saat itu, Jepang begitu kejamnya. Kematian terjadi dimana-mana. Orang-orang bahkan hampir tidak berpakaian lagi. Benar-benar suasana yang sangat sulit dan mencekan. Bahkan, ada seorang perempuan yang menawarkan diri agar dijadikan istri saja supaya ada yang melindunginya,” kata warga Babo berinisial AA yang kini berusia sekitar 76 tahun tersebut. Kini, dia berjualan di Bandara Babo.
H.W. Minekus, seorang karyawan NNGPM menulis dalam sebuah laporan, “Kebanyakan dari kami lari dan menjatuhkan diri di parit-parit pinggir jalan. Kemudian pesawat-pesawat Jepang datang kembali. Kami makin melekatkan diri dengan tanah parit sambil gemetaran. Tetapi saat itu tak ada bunyi bom, mungkin mereka sudah kehabisan amunisi. Bomber-bomber itu pergi ke arah mereka datang.”
Baca Juga: Kunjungi Lokus Perang Wamsisil di Saparua, Menguak Sosok Misterius Pattimura
Pesawat di Babo yang Lenyap dan Diselamatkan dari Tangan Jahil
Sejumlah pesawat peninggalan Perang Pasifik di Babo, ada yang berhasil diselamatkan dengan dipindahkan ke tempat lain dan diperbaiki, ada juga yang hilang karena ulah tangan-tangan jahil. Pesawat yang hilang, biasanya karena dipotong-potong untuk dijadikan besi tua dan dijual kepada penadah. Sedangkan pesawat yang selamat, karena dipindahkan dan disimpan di museum.
Beberapa pesawat yang hilang, di antaranya:
- A6M3 Zero. Pesawat ini tetap di lapangan terbang Babo hingga setidaknya tahun 1991.
- A6M5 Model 52 Zeto. Pesawat ini etap di lapangan terbang Babo sampai setidaknya tahun 1991.
- Ki-48 Lily. Pesawat ini tetap di lapangan terbang Babo sampai setidaknya tahun 1976.
- Ki-21 Sally. Pesawat ini tetap di lapangan terbang Babo sampai setidaknya tahun 1976.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



