AmboinaPendidikan & Kesehatan

Jaringan Masyarakat Sipil Maluku Sayangkan Arogansi Pihak IAIN Ambon

potretmaluku.id – Jaringan Masyarakat Sipil Maluku (JMSM) menyayangkan pemimpin Institut Agama Islam Negeri Ambon (IAIN), yang bertindak arogan, antara lain mempolisikan Yolanda Agne, penanggungjawab penerbitan Tablod LINTAS edisi 2, karena dinilai telah melecehkan dan mencemarkan nama baik institusi.

Sebagaimana ramai diberitakan belakangan ini, Tabloid LINTAS terbitan terbaru dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), tertanggal 16 Maret 2022, menguak 32 kasus Kekerasan Seksual terhadap mahasiwa dan mahasiswi di kampus IAIN Ambon.

“Memilih fenomena maraknya Kekerasan Seksual di kampusnya, tentu adalah sikap berani yang sangat cerdas dan humanis,” nilai JMSM, dalam siaran persnya yang diterima potretmaluku.id, Senin (21/3/2022) malam.

Sebagai institusi pendidikan yang tugasnya mencetak generasi terdidik, berkarakter dan humanis, menurut JMSM yang diwakili Lusi Peilouw, Katrin Wokanubun dan Rani Madubun ini, semestimya pimpinannya memberikan penghargaan atas kerja jusnalistik mahasiswa seperti ini.

“Sayangnya, pemimpin institusi justru merespon dengan tindakan-tindakan yang arogan, antara lain mempolisikan penanggungjawab penerbitan LINTAS karena dinilai telah melecehkan dan mencemarkan nama baik institusi. Yolanda dan rekan-rekan kemudian didesak untuk memberikan data 32 korban, namun mereka menolak,” tutur mereka.

Terhadap hal itu, JMSM menyatakan penyesalan yang teramat dalam. Menurut mereka, menolak memberikan data korban itu adalah sikap yang tepat dan memang seharusnya dilakukan.

Selain mereka menjalankan prinsip dan rambu-rambu jurnalistik yang diatur oleh Undang – Undang Pers, JMSM menyebutkan, Yolanda dan rekan-rekannya juga menjalankan prinsip dan etika perlindungan terhadap korban.

“Siapa yang bisa menjamin keamanan korban begitu data dibuka kepada pimpinan kampus? Siapa yang bisa menjamin bahwa korban tidak akan diintimidasi? Korban bisa mengalami reviktimisasi dan bahkan mengalami trauma yang baru,” tandas mereka.

Lantaran itu, JMSM menilai, yang dilakukan Crew LINTAS itu justru mengedepankan perlindungan korban. Ini tindakan mulia yang Yolanda Agne lakukan.

Menurut mereka, jika niatnya ingin menyelamatkan nama baik kampus, maka setiap kasus itu harus diusut tuntas, dan pelaku diberikan sanksi setimpal.

“Ini akan menjadi preseden yang baik, tentang keberpihakan kampus pada perlindungan dan pemulihan korban. Juga sebagai bentuk upaya memotong impunitas,” terang JMSM.

Untuk mengusut, Rektor IAIN seharusnya membentuk tim investigasi yang melibatkan pihak luar kampus. Ini langkah strategis yang seharusnya diambil oleh pihak rektorat, begitu LINTAS terbit.

“Mengapa tim eksternal? Relasi kuasa antara korban dan pelaku yang timpang, berpotensi mengganggu objektivitas dan netralitas kerja tim. Olehnya itu, tim eksternal jauh lebih efektif, reliable dan credible,” jelasnya JMSM.

Mereka menyebutkan, ada banyak kampus di bawah Kementerian Agama di Indonesia ini, yang sudah membenah diri menjadi kampus yang zero tolerance terhadap segala bentuk tindakan kekerasan seksual, dan tidak memberikan tempat bagi pelaku. IAIN Ambon pun semestinya demikian.

“Untuk itulah, kami mengusulkan langkah-langkah berikut ini bagi pimpinan IAIN Ambon, yakni:
Mencabut laporan polisi terhadap Yolanda Agne. Karena proses hukum itu berpotensi memunculkan reviktimisasi dan trauma baru bagi korban,” imbau JMSM.

Mereka juga menyarankan pihak IAIN membentuk Tim Investigasi Eksternal, yang melibatkan aktivis atau pegiat Hak Asasi Manusia, khususnya perlindungan korban kekerasan seksual. Percayakan kepada Tim Eksternal ini untuk menelaah dan nantinya memberikan rekomendasi yang tepat.

“Selanjutnya, tidak lagi mendesak dan meminta data korban untuk dibuka. Terus melakukan hal ini, sama artinya melecehkan suara korban, dan ini sikap yang sangat tidak manusiawi. Membangun mekanisme pemulihan korban dan pencegahan berulangnya lagi kasus,” tutup JMSM.(TIA)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button