Pendapat

FX Rudy Gunawan, Papua, dan Jurnalisme Sipil

PENDAPAT

Akhirnya, saya dibelikan tiket baru oleh Ita Ibnu. Saya mengucapkan terima kasih atas solusi yang diberikan. Ita Ibnu merupakan salah satu sosok di balik penyelenggaraan Makassar International Writers Festival (MIWF) bersama Lily Yulianti Farid, Riri Reza dan penyair M Aan Mansyur. Festival untuk kalangan penulis ini dilaksanakan sejak tahun 2011 oleh Rumahta’ Artspace.

Dengan tiket baru itu, saya terbang ke Jayapura. Tiba di Bandara Sentani, saya dijemput mobil panitia. Rupanya, saya tak sendiri. Ada FX Rudy Gunawan. Kami ternyata satu penerbangan. Dia naik dari Jakarta, sedangkan sayw naik dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. FX Rudy Gunawan ini, adalah teman yang nanti sama-sama jadi fasilitator Pelatihan Jurnalisme Sipil untuk Kalangan NGO dan Jurnalis di Jayapura, 30 Oktober-2 November 2007.

Tentu saja saya senang, bertemu dengan seorang penulis cerita pendek, esai, novel dan artikel jurnalistik ini. Bukan saja karena bisa berada satu mobil dengan dia dan ngobrol di sepanjang perjalanan tapi dalam beberapa hari kami akan jadi mitra.

Kesempatan baik ini, saya akan gunakan untuk belajar dari penulis buku “Mendobrak Tabu: Seks, Kebudayaan, dan Kebejatan Manusia” tersebut. FX Rudy Gunawan kaya pengalaman di dunia media, salah satunya sebagai pengelola Radio Voice of Human Right.

Pelatihan Jurnalisme Sipil ini hendak menguatkan kolaborasi dan sinergitas antara kerja-kerja para aktivis Non-Governmental Organization (NGO) dengan fungsi kontrol sosial yang dimainkan media massa. Mereka yang bekerja sebagai organisasi non-pemerintah, dalam membangun kesadaran kritis warga dan pemberdayaan, perlu didukung oleh liputan dan publikasi yang juga berpihak pada kepentingan masyarakat melalui jurnalisme advokasi.

Menariknya, selama pelatihan, banyak sekali pertukaran ide dan gagasan, demi penguatan kapasitas bersama. Bukan cuma itu, pelatihan menjadi sangat hidup, karena para peserta juga tak henti melontarkan mob-mob sebagai selingan di sela-sela diskusi atau ice breking. Lontaran mob yang gurih dan segar merupakan kearifan lokal masyarakat Papua.

Mob adalah cerita-cerita lucu, yang biasanya disampaikan secara bergantian saat orang Papua lagi nongkrong. Ini jadi semacam medium pelepas lelah. Jadi setiap kali ada yang melontarkan mob, akan dibalas oleh mob dari kawan lain. Isi cerita dari mob-mob tersebut, sangat beragam, seputar kehidupan masyarakat Papua. Kontan saja tawa kami pecah setiap selesai satu mob diceritakan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button