Forum Kolaboratif yang Sepi Kursi Pemerintah: Ketika Pemuda Bicara, Negara ke Mana?
Pemuda Bergerak, Negara Bertanya-Tanya
Saat negara sibuk mengkaji prosedur, para pemuda justru bertindak. Komunitas akar rumput, LSM, dan jaringan informal anak muda telah lama bekerja membangun jembatan lintas identitas.
Tapi seperti yang dikatakan dalam forum ini, kerja-kerja itu lebih sering bersifat “meredam konflik” ketimbang “menyelesaikan konflik”.
Ketiadaan negara dalam forum ini menjadi simbol: bahwa demokrasi kita masih berat sebelah. Pemuda yang terus diajak “aktif berpartisipasi” justru sering ditinggal sendirian ketika sedang memetakan persoalan di akar rumput. Padahal, bukankah demokrasi inklusif seharusnya mengandung prinsip dasar: kehadiran?
Barangkali pemerintah mengira forum ini hanyalah “diskusi kecil” yang tak perlu dihadiri. Tapi mari kita katakan terus terang: absennya mereka bukan hanya soal kursi kosong, tapi juga soal ketelanjangan komitmen.
Jika yang diperjuangkan adalah keberlanjutan perdamaian, lalu ke mana para pengambil kebijakan saat pintu dialog dibuka lebar-lebar?
Atau mungkin kita harus menyesuaikan kembali undangan? Tambahkan frasa “reses” atau “peninjauan proyek strategis nasional”, supaya kehadiran pejabat bisa lebih dijamin?
Apa yang Sebenarnya Kita Takuti?
Apakah keengganan hadir di forum-forum semacam ini karena takut dituntut tanggung jawab? Atau karena forum semacam ini terlalu membongkar kenyataan, bahwa negara belum selesai menyelesaikan pekerjaan rumah pascakonflik dua dekade lalu?
Bagi para pemuda yang hadir di forum ini, pertanyaan-pertanyaan itu tak dijawab dengan keluhan, melainkan dengan strategi: pentingnya riset mendalam sebagai dasar kebijakan, pembentukan pusat kajian resolusi konflik yang bekerja lintas kampus dan komunitas, serta dorongan untuk membangun jejaring kolaboratif yang tidak hanya seremonial tapi berkelanjutan.
Forum ini mungkin telah ditutup dengan doa dan dokumentasi, tapi kisahnya jauh dari usai. Justru di sinilah cerita dimulai: tentang pemuda yang terus bicara meski mikrofon kekuasaan tak tersedia, tentang komunitas yang terus bergerak meski tanpa restu negara, dan tentang demokrasi yang hanya akan tumbuh jika semua pihak mau hadir secara fisik, dan lebih penting lagi, secara etis.
Maka pertanyaannya sekarang: Apakah kita ingin terus menyembuhkan luka-luka sosial dengan kata-kata manis, atau kita siap menggalinya dengan keberanian demi menyembuhkan dari akar?
Karena kalau negara terus absen, siapa yang seharusnya kita panggil untuk duduk di kursi kosong itu?(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



