Amboina

Dramatisasi Jalan Salib Hidup di Ambon: Ketika Kota Musik Berkidung Tentang Pengorbanan dan Persatuan

Gubernur berharap, Dramatisasi Jalan Salib ini terus dikembangkan sebagai agenda wisata rohani tahunan, yang tidak hanya memperkuat iman, tapi juga memperkaya ekonomi dan budaya lokal.

Di balik terselenggaranya kegiatan megah ini, ada peran besar dari Dewan Pastoral Paroki Santa Maria Bintang Laut Ambon, serta dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Maluku. Meskipun dihadapkan pada keterbatasan dana, komitmen untuk terus melestarikan tradisi ini tidak pernah padam.

Kalvari di Ambon: Ketika Drama Menjadi Doa

Dramatisasi Jalan Salib ini bukan sekadar perarakan. Ia adalah teater rohani. Sebuah drama hidup yang menggambarkan sengsara Yesus mulai dari pengadilan hingga penyaliban di Gunung Kalvari. Disusun dalam 15 titik pemberhentian, tiap adegan menggugah jiwa. Teriakan, tangis, bahkan keheningan—semuanya menyatu dalam atmosfir batin yang dalam.

Para pemeran mengenakan kostum khas zaman Romawi. Yesus yang memanggul salib, para serdadu yang mengolok, hingga Maria yang menangis. Semua adegan dihidupkan dengan begitu emosional dan menyentuh. Di sela-sela itu, lantunan doa dan kidung pun bergema, menyatukan seluruh umat dalam satu perasaan: haru dan kagum.

Bagi banyak peserta, terutama umat Kristiani, ini bukan sekadar menonton. Ini adalah ziarah batin. Sebuah perjalanan spiritual yang membawa hati semakin dekat pada Sang Penyelamat.

dramatisasi jalan salib
Dramatisasi Jalan Salib Hidup di Ambon.(Foto: Mario Zacharias Hallatu)

Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, turut menyampaikan pesan damainya dalam momen sakral ini. Ia melihat Dramatisasi Jalan Salib Oikumene sebagai kesempatan emas bagi Ambon dan Maluku untuk terus dikenal sebagai tanah yang damai dan penuh toleransi.

“Momentum ini adalah bentuk doa,” katanya. “Agar Kota Ambon dan Provinsi Maluku senantiasa diberkati dalam damai dan kesejahteraan.”

Dramatisasi Jalan Salib Sebagai Magnet Wisata Rohani

Dramatisasi Jalan Salib Oikumene 2025 telah membuka mata banyak pihak: bahwa kegiatan keagamaan tak melulu eksklusif dan tertutup. Ia bisa menjadi daya tarik pariwisata, sarana edukasi, hingga diplomasi budaya dan keagamaan.

Dengan sentuhan profesionalisme dalam manajemen acara, promosi yang baik, serta sinergi lintas lembaga, Jalan Salib ini berpotensi besar menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi, dengan latar alam Ambon yang memukau, prosesi ini bisa menjadi wisata rohani yang berbalut keindahan alam dan kekayaan budaya.

Tak berlebihan jika ke depan, Ambon bisa menjadi destinasi utama wisata rohani di kawasan timur Indonesia. Di sinilah umat bisa berjalan bersama—bukan hanya dalam iman masing-masing, tapi juga dalam semangat kebersamaan.(Tiara)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button