Kutikata

Beta Junjung di Kapala

Oleh: Eltom (Pemerhati Sosial)

Masyarakat adat di Kepulauan Maluku (Maluku dan Maluku Utara) yang berbahasa Melayu Ambon memiliki ungkapan-ungkapan yang menerangkan tata etika membahasa. Ada bentuk pujian yang disampaikan secara langsung namun ada pula yang terselip di dalam peribahasa atau bentuk kalimat sebagai tanda hormat.

Pada KutiKata sebelumnya (26 Maret 2021), ungkapan-ungkapan yang ditujukan kepada seorang raja/pemimpin seperti “Asal Tuan Bertitah, Beta Turut Printah” merupakan bentuk loyalitas dan kecintaan rakyat kepada pemimpinnya yang terkenal baik/bijaksana. Penghormatan kepada raja sekaligus mewakili rasa cinta pada negeri dan rasa bangga sebagai anak negeri.

Raja-raja yang bijaksana adalah raja-raja berkharisma. Mereka selalu ada untuk rakyatnya, mereka selalu membela hak rakyatnya, mereka mengenal rakyatnya dan mengenal negerinya “sampe di salekar-salekar negeri” mereka tahu “petuanan dari yang sajingkal sampe sadepa Panjang”.

Ia memutuskan perkara dengan adil dan para pembantunya menjalankan titahnya dengan setia. Mungkin ada yang pernah melihat atau mendengar cerita, bahwa “dolo-dolo kalu anana muda yang tukang baku pukul deng kampong sablah dapa suruh lunjur di bangko Panjang la dapa cawani di tulang blakang sampe sterp-sterp merah” (=para pemuda yang berkelahi dengan pemuda di kampung tetangga di hukum dengan jalan disuruh tengkurap di atas bangku dan dirotani punggungnya).

Jou-jou/kepala soa adalah “eksekutor” dan yang ia rotani adalah pemuda “anak soa”-nya. Jadi fungsi edukasi berlangsung dalam cara itu sekaligus agar “jang biking malu orang tatua” bahkan “jang biking malu turunan”; sebab itu setiap orang yang bersalah dihukum oleh kepala soanya sendiri. Pada aspek itu, Raja menjadi simbol dari tegaknya tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan damai.

Bila ada perkara yang dialami rakyatnya (=anak negeri), ia akan tampil sebagai pembela guna membela dan mempertahankan harkat anak negeri dan kehormatan negerinya. “Mau lari par sapa lai, kalu bukang par bapa” (=kepada rajalah kami mencari perlindungan); “mau minta tolong sapa lai, kalu bukang bapa” (=raja adalah penolong); “kalu bapa ada katong seng taku apapa” (=bila bapak hadir/ada, kami tidak takut apa pun).

Itulah sebabnya, kepada raja-raja yang bijaksana: “beta junjung di kapala”. Ungkapan ini mengandung makna bahwa “katong iko apa saja yang bapa prentah” (=kami turuti semua perintah raja) – sebab segala perintah raja terbukti memberi jaminan kehidupan/kepastian.

Tidak ada perintah raja yang tidak berpihak pada rakyatnya. Makna lain bahwa: “raja tuh raja saja” (=raja adalah raja) – tidak ada orang lain/pemimpin yang sebanding dengannya, sebab ia benar-benar menjadi sosok teladan yang sempurna.

Pesan lain dari ungkapan itu bahwa segala kehormatan raja benar-benar dijaga rakyatnya: “awas jang tagal katong la antua pung nama busu” atau “jang biking busu antua nama” atau “jang sampe negri malu”.

Jadi rakyat menjaga harga diri dan kehormatan seorang raja, termasuk negerinya. Lagi-lagi alasan dari semua penghormatan itu adalah karena raja adalah pemimpin berkharisma yang bijaksana.

Kita punya banyak raja, kita negeri raja-raja. Kita ingin dipimpin raja yang bijaksana, karena ia adalah tanda kehormatan kita semua.

Selamat berakhir pekan

Kotamahu, Wailela, Rumahtiga
27 Maret 2021

Elifas Tomix Maspaitella (Eltom)

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button