Seram Bagian Barat

Mandi Safar dan Buka Sasi, Cara Negeri Kawa Merawat Laut, Tradisi, dan Harapan Wisata Budaya

potretmaluku.id – Suasana pesisir Negeri Kawa, di Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, tampak berbeda pada Rabu, 5 Agustus 2026. 

Warga berkumpul sejak pagi mengikuti rangkaian Tradisi Mandi Safar dan Buka Sasi, sebuah ritual turun-temurun yang bukan hanya menjadi penanda identitas budaya masyarakat pesisir, tetapi juga ruang untuk merawat hubungan manusia dengan alam.

Tradisi yang kembali digelar Pemerintah Negeri Kawa itu dihadiri Bupati Seram Bagian Barat Asri Arman, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat Abdul Rauf Latulumahina, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, pimpinan organisasi perangkat daerah, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat.

Prosesi diawali dengan Buka Sasi yang dipimpin para tetua adat melalui doa bersama. Ritual ini menjadi simbol berakhirnya masa larangan mengambil hasil laut pada kawasan tertentu, sekaligus penegasan bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara bijaksana.

Setelah itu, masyarakat melaksanakan Tradisi Buka Sasi Ikan sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang selama ini menjadi mekanisme lokal dalam menjaga kelestarian ekosistem laut.

WhatsApp Image 2026 08 05 at 21.45.37 2
Prosesi tradisi Mandi Safar dan Buka Sasi di Negeri Kawa, Kabupaten Seram Bagian Barat, yang diikuti masyarakat sebagai simbol pelestarian budaya, penghormatan terhadap laut, dan pengembangan wisata budaya.(Foto: Dok. Yusti)

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Tradisi Mandi Safar. Bagi masyarakat Negeri Kawa, ritual ini menjadi simbol penyucian diri, ungkapan rasa syukur, sekaligus doa bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan.

Pejabat Kepala Desa Kawa Abuhaer Kilwou berharap Tradisi Mandi Safar dan Buka Sasi dapat ditetapkan sebagai agenda wisata budaya tahunan Kabupaten Seram Bagian Barat. 

Menurut dia, dukungan pemerintah daerah, baik melalui pembinaan maupun alokasi anggaran, diperlukan agar penyelenggaraan kegiatan terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Bupati Seram Bagian Barat, Asri Arman mengatakan Tradisi Mandi Safar dan Buka Sasi merupakan warisan budaya yang memuat nilai spiritual, pelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap laut sebagai sumber kehidupan masyarakat pesisir.

Menurut dia, nilai-nilai tersebut perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar tradisi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

mandi safar
Prosesi tradisi Mandi Safar dan Buka Sasi di Negeri Kawa, Kabupaten Seram Bagian Barat, yang diikuti masyarakat sebagai simbol pelestarian budaya, penghormatan terhadap laut, dan pengembangan wisata budaya.(Foto: Dok. Yusti)

Pemerintah daerah juga mendorong Pemerintah Negeri Kawa menyusun strategi promosi yang lebih kreatif agar tradisi tersebut semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Seram Bagian Barat. Pemerintah, kata dia, siap mendukung pengembangannya.

Selain prosesi adat, kemeriahan acara hadir melalui dulang kuliner sepanjang 135 meter yang disiapkan oleh sembilan rukun tetangga. Beragam hidangan khas Negeri Kawa disajikan untuk dinikmati masyarakat dan tamu yang datang.

Tiga kelompok pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner juga memamerkan aneka makanan tradisional. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat melalui sektor ekonomi kreatif.

Pelaksanaan Tradisi Mandi Safar dan Buka Sasi tahun ini berlangsung aman dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. 

Di Negeri Kawa, tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga diarahkan menjadi kekuatan baru yang menghubungkan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.(YUS)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button