Nilai Sirik na Pacce Diangkat dalam Pameran Seni Inklusif Disabilitas di Makassar
potretmaluku.id – Nilai-nilai budaya lokal Sulawesi Selatan menjadi titik berangkat dalam sebuah program seni yang melibatkan penyandang disabilitas sebagai pelaku utama.
Melalui Workshop Karya Ceria, peserta diajak memahami filosofi sirik na pacce sekaligus menerjemahkannya ke dalam karya seni media yang akan dipamerkan secara inklusif.
Pembahasan mengenai sirik na pacce disampaikan penulis dan pegiat literasi, Rusdin Tompo, dalam kegiatan Workshop Karya Ceria: Pameran Seni Media Disabilitas dalam Tema Budaya Sirik na Pacce di Fakultas Desain dan Seni Universitas Negeri Makassar (UNM), Parangtambung, Makassar, Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurut Rusdin Tompo, sirik na pacce merupakan salah satu unsur kebudayaan lama dan asli yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.

Filosofi tersebut, kata dia, telah menjadi bagian dari proses pembelajaran hidup masyarakat setempat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam pemaparannya, Rusdin merujuk pada pandangan sejumlah akademisi, budayawan, dan tokoh Sulawesi Selatan yang mengulas sirik na pacce secara mendalam, di antaranya Abu Hamid, Sugira Wahid, Rahman Arge, dan Prof Aminuddin Salle.
Pada Workshop Incremental Art Experience: Tumbuh Bersama Seni Lewat Rasa dan Karya itu, Rusdin menjelaskan bahwa nilai-nilai sirik na pacce memiliki sifat universal.
Nilai tersebut mencakup pengakuan terhadap persamaan derajat manusia, penghormatan terhadap hak dan kewajiban sesama, cinta kemanusiaan, tenggang rasa, keberanian membela kebenaran dan keadilan, penghargaan terhadap hak orang lain, semangat bekerja keras, serta kebanggaan terhadap identitas budaya.
Penulis :
Editor :



