Buku dan Pena untuk Anak Maluku: Upaya Kecil Menjaga Semangat Sekolah
potretmaluku.id,- Di sebuah ruang kelas di SMP Negeri 3 Ambon, Desa Hative Kecil, Kota Ambon, sejumlah siswa menerima paket sederhana berisi buku tulis dan pena. Bagi sebagian anak, perlengkapan itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi sebagian lainnya, benda-benda kecil itu menjadi bekal penting agar mereka tetap bisa mengikuti pelajaran di sekolah.
Sebanyak 10.000 paket buku tulis dan pena disiapkan untuk dibagikan kepada siswa di berbagai wilayah Maluku oleh anggota DPR RI dari daerah pemilihan Maluku, Mercy Chriesty Barends. Program tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan reses sekaligus pengawasan pelaksanaan Program Indonesia Pintar (PIP) 2025.
Penyaluran bantuan dimulai pada Kamis (5/3/2026) di SMP Negeri 3 Ambon dan dilanjutkan ke SMA Swasta 45 Ambon di kawasan Karang Panjang, Kecamatan Sirimau. Pada tahap awal, masing-masing sekolah menerima 100 paket perlengkapan belajar.
“Program ini akan menjangkau anak-anak sekolah di berbagai wilayah Maluku. Kita mulai dari Ambon,” kata Mercy.
Bagi banyak siswa di kota besar, buku tulis dan pena mungkin bukan persoalan. Namun di sejumlah daerah di Maluku, kebutuhan dasar tersebut masih menjadi tantangan bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Mercy mengatakan, ia masih menemukan siswa yang kesulitan membeli perlengkapan sekolah sederhana.
“Ada anak-anak yang bahkan kesulitan datang ke sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya, apalagi untuk membeli buku dan pena,” ujarnya.
Setiap paket bantuan yang dibagikan berisi lima buku tulis dan tiga pena. Meski sederhana, Mercy berharap bantuan tersebut dapat membantu siswa tetap mengikuti kegiatan belajar tanpa terbebani masalah perlengkapan sekolah.
Program tersebut juga dimaksudkan untuk memperkuat perhatian terhadap akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin.

Pelajaran dari Kabupaten Ngada
Dalam kesempatan itu, Mercy juga menyinggung peristiwa tragis yang terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu. Seorang siswa dilaporkan mengakhiri hidupnya setelah mengalami tekanan karena tidak memiliki perlengkapan sekolah.
Menurut Mercy, peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi semua pihak agar lebih peka terhadap kondisi sosial siswa.
“Kejadian itu menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih peduli terhadap anak-anak yang menghadapi kesulitan,” ujarnya.
Ia menilai persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ruang kelas dan kurikulum, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi siswa di rumah.
Anggota Komisi III DPR RI itu juga mengingatkan pentingnya peran sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif.
Menurut dia, siswa dari keluarga kurang mampu tidak boleh diperlakukan berbeda atau dipermalukan karena keterbatasan ekonomi.
“Kalau ada teman yang tidak punya buku atau pena, harus dibantu. Jangan malah dihina atau dikucilkan,” ujarnya.
Ia menilai sikap saling mendukung di lingkungan sekolah dapat membantu menjaga kesehatan mental siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin.
Selain itu, Mercy meminta pihak sekolah memberi perhatian khusus kepada siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi tetapi tetap menunjukkan semangat belajar tinggi.
“Anak-anak seharusnya bisa belajar dengan tenang. Lingkungan yang mendukung itu tanggung jawab kita semua,” katanya.

Dana Reses Dialihkan Program Sosial
Program pembagian paket buku dan pena tersebut, menurut legislator dari dapil Maluku itu, anggarannya bukan berasal dari program kementerian ataupun anggaran khusus pemerintah.
Mercy menjelaskan bahwa kegiatan itu dibiayai dari dana kegiatan reses yang biasanya digunakan untuk kegiatan pertemuan atau forum masyarakat.
“Daripada menyewa gedung dengan biaya besar untuk pertemuan, lebih baik dana itu kita gunakan untuk membantu masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Ia berharap langkah sederhana tersebut dapat mendorong kepedulian yang lebih luas terhadap pendidikan, khususnya bagi anak-anak di daerah yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi.
Sebagai provinsi kepulauan, Maluku masih menghadapi berbagai tantangan di sektor pendidikan, mulai dari akses transportasi hingga kesenjangan ekonomi keluarga.
Dalam situasi tersebut, dukungan terhadap kebutuhan dasar pendidikan, termasuk perlengkapan belajar, masih menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pendidikan bagi siswa.
Mercy menilai peningkatan kualitas pendidikan di Maluku membutuhkan kerja bersama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga masyarakat.
“Anggaran pendidikan harus dikelola dengan baik dan transparan, karena ini uang rakyat untuk kepentingan rakyat,” katanya.
Ia berharap bantuan sederhana seperti buku dan pena dapat menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak selalu harus dimulai dari program besar, tetapi juga dari langkah-langkah kecil yang langsung menyentuh kebutuhan siswa.
Sedangkan kepala SMP Negeri 3 Ambon, Herra Menny Pelupessy menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kepedulian Mercy Barends kepada para siswa dengan latar belakang keluarga kurang mampu.
“Hampir semua penerima berasal dari keluarga kurang mampu, orang tuanya berprofesi tukang ojek, petani atau buru cuci. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat untuk mendukung proses belajar mereka,” ujarnya. (JAY)
Penulis :
Editor :



