Duka dan Keteguhan Warnai KKN PPM di Maluku Tenggara

potretmaluku.id – Suasana haru menyelimuti penutupan program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Manyeuw, Maluku Tenggara.
Selama hampir 50 hari, 27 mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan 5 mahasiswa Universitas Pattimura menjalankan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, namun perjalanan mereka diwarnai kehilangan dua rekan: Septian Eka Rahmadi dan Bagus Adi Prayogo.
Duka pertama datang sepekan setelah rombongan tiba di lokasi. Dosen pembimbing lapangan, Raden Ajeng Antari Innaka Turingsih, mengisahkan kembali saat menerima telepon dari mahasiswa yang menangis, mengabarkan wafatnya Eka.
“Seminggu setelah kedatangan kami, saya menerima telepon dari mahasiswa yang menangis, mengabarkan bahwa Eka telah meninggal dunia,” ujarnya dalam sambutan perpisahan di Desa Rumadian, Selasa, 12 Agustus 2025.
Tak lama berselang, kabar hilangnya Bagus menambah kepedihan. Meski jadwal pencarian resmi dari Basarnas baru dimulai esok hari, warga Manyeuw bergerak malam itu juga.
“Warga langsung mengorganisir pencarian meski malam sudah larut. Solidaritas mereka sungguh menggetarkan hati,” kata Antari.
Setelah proses pemulangan dua mahasiswa tersebut, Antari memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghentikan program dan kembali ke kampus. Namun para mahasiswa memilih tetap tinggal. “Mereka bilang, ‘Kami belum selesai. Perjuangan ini harus terus berjalan’,” kenangnya.
Dengan tekad itu, mereka merampungkan 18 program kerja di dua ohoi, Debut dan Rumadian. Mulai dari kegiatan pembangunan fisik, pelatihan masyarakat, hingga program literasi.
“Mereka bekerja melebihi ekspektasi. Ini bukti nyata kekuatan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat,” ujar Antari.
Di hadapan warga, ia menyampaikan bahwa kedua mahasiswa yang gugur tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka. “Saya pulang membawa 27 anak. 25 secara fisik, dua lainnya Eka dan Bagus akan selalu bersama kami dalam kenangan.”
Perwakilan mahasiswa, Rama Ruwasti, menyampaikan rasa terima kasih kepada warga Manyeuw yang menyambut mereka seperti keluarga.
“Kami datang sebagai tamu, tapi disambut seperti keluarga,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa kehadiran mereka lebih dari sekadar menjalankan program kerja. “Ini tentang kebersamaan, gotong royong, dan saling belajar.”
Rama menyebut Festival Pesona Manyeuw 2025 sebagai salah satu momen yang mengikat hubungan antara mahasiswa dan warga. “Festival itu bukan sekadar seremoni, tapi simbol kekuatan kolektif,” katanya.
Ia mengakui masih ada kekurangan dalam pelaksanaan program, namun berharap apa yang telah mereka mulai bisa menjadi pijakan perubahan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Rama menyampaikan apresiasi kepada para mitra, termasuk Kementerian PUPR, OMK, Remaja Masjid, aparat ohoi, camat, hingga pemerintah daerah. “Eka dan Bagus bukan hanya rekan, tapi motivator kami. Semangat mereka menyertai kami hingga akhir.”(TIA)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



