Amboina

Selamat Ulang Tahun Ambon Kota Urban

Oleh: Ardiman Kelihu (Mahasiswa S2 Fisipol UGM dan Fasilitator pada gerakan Interfaith di Maluku)

Pada 1992 Juliet Lee datang ke Ambon dan menulis wajah desa yg berubah. Ia menyaksikan urbanisasi massal orang-orang desa dari Seram ke Kota Ambon. Dalam catatannya di tahun 1994-95, ia melihat urbanisasi ini dipicu oleh ketiadaan kerja, jatuhnya harga cengkih, dan gengsi orang-orang desa utk datang ke Kota.

Desa-desa di Pulau Seram pada tahun-tahun itu, jadi “desa kosong” karena hanya di tempati oleh anak-anak yg menghabiskan masa kecil dan orang tua yg menghabiskan pensiun dan hari tua. Dalam fantasi kaum urban masa itu, Ambon dilihat sebagai simbol kemajuan dan capaian tertinggi ketika seseorang harus merantau. Ia persis Jakarta.

Di tahun-tahun itu pula, sekitar 70 persen lebih penduduk desa dibawah usia 35 tahun memilih merantau ke Kota Ambon dibanding tinggal di desa. Bahkan ada satu desa di Seram yg dari 2000 penduduknya, hanya tersisa 80 orang. Sebagian besar dari mereka memilih merantau ke Ambon dan kota-kota lain.

Urbanisasi massal ini diperkirakan terjadi sejak tahun 1950-an. Kaum urban ini umumnya datang ke kota Ambon utk sekolah dan bekerja. Banyak dari mereka yg jadi pegawai tetap di kantor-kantor, penjahit, dan penjaga toko. Mereka tinggal di kampung-kampung padat seperti Kebun Cengkih, Waehaong, Soabali dan Batumerah. Menikah, menetap dan bekerja di Ambon.

Bagi warga urban Ambon saat itu (bahkan sekarang), menjadi PNS adalah ukuran paling tepat utk menjaga gengsi. Baik karena menunjang dari sisi pendapatan, atau sekadar bangga karena seragam. Urbanisasi masal inilah yg menggeser tradisi haji orang-orang muslim di tahun-tahun itu. Pergi ke Mekkah urusan kedua, yg penting jadi PNS.

Memang sejak dulu Ambon adalah kota urban. Kota jasa. Sebelum Lee, banyak teoritisi juga sperti Knaap, Leirissa, Leonard Andaya, Richard Chauvel, dsb yg memiliki label sama terhadap Ambon. Ia menjadi tempat singgah bagi perantau dan pencari kerja di kampung-kampung utk bergulat “menjadi orang Kota”. Tak heran, hampir sebagian besar warga kota Ambon adalah kaum urban desa yg telah menetap berpuluh tahun.

Kota urban itu kini penuh sesak. Sektor-sektor jasa tumbuh dan meluas dimana-mana. Wajah urban kota Ambon makin kesini makin kelihatan : persos kota-kota pelabuhan di abad-abad 16 atau tahun-tahun 50-an. Ambon hari ini sebenarnya tak berubah, ia hanya sedang kembali mempertegas diri sbg kota urban, kaum migran dan pendatang.

Selamat HUT Kota Ambon ke-446


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button