
Setelah makan malam itu, kami ke ruang tunggu untuk mendengar informasi keberangkatan ke Yogyakarta. Terasa ada yang aneh, karena tak lagi melihat penumpang, yang satu pesawat dengan kami. Saya lalu menuju ke petugas bagian transit, menanyakan penerbangan ke Yogyakarta. Astagfirullah, ternyata pesawat kami sudah berangkat. Kasus ketinggalan pesawat, hari itu bukan hanya terjadi pada kami, juga dialami penumpang rute lainnya.
Nurlan terlihat kecewa. Dia mengajak saya membeli tiket untuk pulang ke Makassar. Namun, kalau pulang, biaya tiket kami tidak bisa di-reimburse oleh panitia. Lagi pula, tas saya ada dibagasi pesawat. Artinya, sudah terbawa ke Yogyakarta.
Beruntung ada yang menginformasikan kepada kami dengan sangat detail pilihan transportasi dari Surabaya ke Yogyakarta. Katanya, bisa gunakan kereta api atau bus. Bermodal informasi yang diberikan orang tersebut, kami lalu ke Terminal Bungurasih, Sidoarjo, untuk naik bus, malam itu juga.
Setelah menempuh perjalanan sejauh 327 km, akhirnya kami tiba subuh di Yogyakarta. Saya dan Nurlan lalu mencari taksi, melanjutkan perjalanan ke rumah ipar saya di Jalan Sidoluhur, Pujokusuman. Sekira pukul 8 baru saya ke Bandara Internasional Adisucipto untuk mengambil tas saya di bagian lost and found. Setelah pulang dari bandara, baru saya ceritakan pengalaman ketinggalan pesawat kepada ipar saya. Katanya, pantas dia heran, naik pesawat jam berapa tibanya subuh di Yogyakarta hehehe.
Berkaitan dengan kegiatan advokasi PRT/PRT, ada beberapa kali saya ikuti. Salah satu yang tak terlupakan, saat mengikuti Konferensi Nasional Penghentian Traficking dan Kerja Paksa Terhadap PRT dan PRTA di Jakarta, bulan Agustus 2007. Kegiatan ini merupakan kerjasama Rumpun Tjoet Njak Dien, Rumpun Gema Perempuan, JARAK (Jaringan Advokasi Pekerja Anak) dan Uni Eropa.
Setelah kegiatan, kami audiensi dengan Bu Meutia Hatta, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009). Anak saya, Mahatma Gandhi, juga saya ajak ke kantor menteri di Jalan Merdeka Barat. Melihat ada anak kecil di kantornya, Bu Meutia Hatta dengan suara lembut bertanya, “Anak siapa ini?” Seorang teman menunjuk ke arah saya, lalu menjawab, “Dia diajak bapaknya. Malah ikut juga saat di Jogja.”
Setelah selesai melaporkan perkembangan kegiatan advokasi PRT/PRTA, termasuk perlunya undang-undang yang melindungi hak-hak mereka, kami berfoto dengan Bu Meutia Hatta. Kemudian kami berpisah.
Saya mengajak si kecil Mahatma Gandhi ke arah Lapangan Monas, yang berada tak jauh dari situ. Kami mencari bangku taman, lalu duduk menyantap nasi kotak Ayam Goreng Fatmawati. Kami juga masuk ke Monas, melihat-lihat Museum Sejarah Nasional, sebelum naik ke puncak Monas, menikmati Jakarta dari ketinggian.
Selanjutnya, kami pulang naik bus Trans Jakarta menuju kantot JARAK untuk bermalam di sana. Keesokan paginya, saya dan Mahatma Gandhi ke Blok M mengambil Damri untuk ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Setelah itu, terbang kembali ke Makssar. (*)
Makassar, 2 April 2024
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



