Seram Bagian Timur

Warga Kilmury Sindir Jalan Rusak Lewat Video Humor di Media Sosial

potretmaluku.id – Warga Kilmury, sebuah kecamatan di Kabupaten Seram Bagian Timur punya cara tersendiri untuk menyuarakan kekecewaan terhadap kondisi infrastruktur di daerah mereka. 

Lewat video singkat bergaya humor, yang diunggah akun @issuesbt.id, mereka menyoroti jalan rusak yang seharusnya menjadi akses vital warga.

Dalam video yang belakangan ramai beredar di media sosial ini, seorang perempuan berdiri di depan jalan nasional yang tampak rusak parah. 

Sambil mengunyah kue dan tersenyum santai, ia menyindir kondisi proyek jalan yang dinilai tak sesuai harapan. 

“Kontraktor yes, jalan no. Kontraktor makang puji, jalan no. Ini pake campuran apa? Satu kali satu janda muda?” katanya disambut tawa.

Seseorang lain, yang merekam aksi tersebut, menambahkan dengan nada sarkastik, “Proyek apa pakai batang kalapa?”

Komentar itu bukan tanpa dasar. Dalam video itu, tampak jelas bagian gorong-gorong yang dibangun dari batang kelapa—bukan beton. Material seadanya itu kini telah patah dan rusak, membuat akses kendaraan dan pejalan kaki terhambat. 

Jalan utama yang seharusnya menjadi penghubung penting bagi pelajar, guru, tenaga kesehatan, dan warga sekitar, kini berubah seperti lintasan uji keseimbangan.

Untuk melintas, warga terpaksa berjalan di atas dua batang kayu sempit yang diletakkan seadanya melintasi jalur berlubang. Bukan sekadar kesulitan fisik, tapi juga risiko keselamatan yang mengintai setiap langkah.

Kritik dalam bentuk video ini menggambarkan keresahan warga atas proyek jalan senilai miliaran rupiah yang justru menambah derita. Alih-alih memperlancar akses, jalan tersebut kini menjadi simbol ketimpangan pembangunan di daerah terpencil.

Di tengah geli dan getir yang mereka tumpahkan lewat candaan, tersimpan harapan yang belum padam. Warga Kilmury tak sekadar mengeluh, tapi ingin didengar. 

Di wilayah pelosok seperti ini, jalan bukan sekadar urusan fisik, ia menyangkut martabat, akses pendidikan, kesehatan, bahkan masa depan. 

Ketika proyek-proyek bernilai miliaran justru menyisakan lubang-lubang ketidakadilan, maka satire menjadi senjata paling manusiawi yang tersisa. 

Barangkali, lewat video sederhana itu, pesan mereka melintasi batas aspal dan masuk ke ruang-ruang pengambil keputusan. Karena bagi mereka, jalan bukan untuk lucu-lucuan. Tapi untuk pulang, pergi sekolah, dan tetap hidup layak.(TIA)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button