Pendapat

Theis, Atheis, Theis

PENDAPAT

Oleh: Dr. M.J. Latuconsina (Pemerhati Sosial, Politik dan Ekonomi, tinggal di Ambon)

Berawal dari ungkapan kontemplatif Paulo Coelho seorang novelis kenamaan Brasil, kelahiran Rio de Janeiro, pada 24 Agustus 1947, yang populer dengan karyanya berjudul “The Alchemist”, dimana karya sastranya paling banyak dibaca di seluruh dunia.

Atas kontribusi positifnya dalam dunia sastra, dia pun lantas diganjar Crystal Award dari Forum Ekonomi Dunia, bahwa “lupakanlah masa depan, dan jalanilah setiap hari sesuai ajaran, percayalah bahwa Tuhan mencintai hamba-hambaNya. Tiap-Tiap hari pada dirinya membawa keabadian”.

***

Terlepas dari itu, selalu saja menarik sepanjang masa, tatkala kita membicarakan tema bertuhan, tak bertuhan, bertuhan. Suatu tema sakral, pasalnya kita akan memasuki wilayah tentang keyakinan, bahwa orang-orang yang bertuhan atas dasar keyakinan mereka tentang Tuhan itu ada.

Sebaliknya orang-orang yang tak bertuhan atas dasar keyakinan mereka Tuhan itu tidak ada. Hingga kemudian mereka kembali bertuhan atas dasar kesadaran mereka bahwa, Tuhan itu memang benar-benar ada.

Perspektif itulah, yang kemudian menjadi perbincangan menarik bagi kita, tatkala Sabron Aidit, adik kandungnya Ahmad Aidit (1923-1965), yang tenar dengan nama politiknya Dipa Nusantara Aidit Sekretaris Jenderal Komite Ketua Sentral Partai Komunis Indonesia (PKI), yang kemudian dia mengalami pergulatan panjang dalam fase hidupnya, tatkala berada di tanah air hingga hengkang sebagai exil di luar negeri. Pergulatan itu tentang dirinya yang “theis, athies, theis” (bertuhan, tak bertuhan, bertuhan).

Bertuhan (Islam)

Sobron lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 2 Juni 1934. Pendidikan ditempuhnya di Hollandsch Inlandsche Schoo (HIS) Belitung, dan melanjutkan ke Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Dia adalah sastrawan terkemuka pada era Orde Lama (1945-1965). Pada fase ini, dia memiliki keyakinan akan Tuhan (theis), tatkala masa kecil hingga masa remaja di Belitung.

Meskipun, di kemudian hari keluarganya berafiliasi dengan komunis, tapi masa kecil hingga remaja mereka adalah keluarga yang taat pada ajaran Islam. Hal ini dilihat dari Abdullah Aidit ayah Sobron, pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, “Nurul Islam”, yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Tentang keyakinannya akan Tuhan, bisa dilihat dalam curahan batin Sobron, pada bukunya yang berjudul ; “Surat Kepada Tuhan-Memoar Sobron Aidit 2”, penerbit Gramedia, tahun 2003. Dimana untuk mengetahui curahan hati Sabron tentang pada masa kecil, dan remaja dia bertuhan tatkala masih di Belitung dulu.

Saya pun berupaya menghunting bukunya ini. Namun tidak mudah menemukannya di Ambon. Hingga kemudian saya menitipkan kepada sahabat saya, Rudy Muhrim seorang jurnalis, di tahun 2003 yang saat itu melawat ke Kota Malang, untuk membeli buku ini.

Mencari buku ini pun tidak mudah, saya sempat dicap mahasiswa Maluku di Malang saat itu sebagai “orang kiri”. Kata Rudy saat bersama mahasiswa Maluku membeli buku ini, mereka sempat bertanya judul buku yang hendak dibeli, maka dia pun menyebutkan judul buku ini kepada mereka. Saat mereka mendengar judul bukunya, mereka pun balik berkata, “oh teman abang orang kiri..e”. Mereka yang aktif di dunia pergerakan memahami judul buku itu, sebagai buku dengan tema kiri.

Mereka katakan demikian, dikarenakan ulasan buku ini, tentang travel writing seorang sastrawan kiri yang mengalami exil, akibat tekanan politik dari rezim Suharto (1965-1998), yang saat itu melibas habis kekuatan kiri sampai ke akar-akarnya.

Sehingga mereka pun melanglang bauana di berbagai negara bertahun-tahun lamanya, dan tidak pulang ke tanah air, sampai akhirnya menutup mata di sana, untuk selama-lamanya. Rupanya, tidak sia-sia upaya Rudy mencari buku ini sampai ke Malang, dia pun balik ke Ambon dengan membawakan buku sastrawan exil itu.

Dalam uraian buku Sobron itu, dia mengungkapkan secara gamblang bahwa, soal stigma anti-Tuhan yang dilekatkan pada orang-orang PKI, Sobron Aidit punya pembelaan. Banyak teman yang ragu-ragu sikap kami terhadap agama, tutur Sobron Aidit mengawali cerita sekitar agama dan doa (hal 220). Kuceritakan bahwa semua saudaraku, abangku, dan saya sendiri sejak kecil ditanamkan menaati agama.

Ada yang menyanggah, “Ah, masa sih, apa betul abangmu itu juga tamat Quran? Kan dia gembongnya PKI. Apa bisa baca Quran?”. Kukatakan dia bisa, bahkan tamat baca Quran. Karena setiap kami menamatkan Al-Quran, selalu diadakan kenduri. Yang kuingat benar, tidak ada di antara kami yang tidak beragama, apalagi yang anti agama. Sesudah besar dan dewasa, barulah punya pikiran yang luas-bebas, tetapi tidak ada yang anti agama.

Tak Bertuhan (Komunis)

Dalam perjelanannya, Sobron pernah aktif sebagai wartawan untuk Harian Rakjat dan Bintang Timur, kedua koran ini terkenal sebagai harian kiri pada akhir 1950-an dan awal 1960-an.

Pada tahun 1963 ia mendapat undangan untuk menjadi Guru Besar Sastra, dan Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing. Di samping itu ia tetap menjadi wartawan, antara lain untuk Peking Review. Sobron dan keluarganya bermukim di Beijing sebagai pengajar di Institut Bahasa Asing. Kurun waktu 1950-1960, Sobron memasuki fase sebagai seorang komunis. Fase ini merupakan fase dia tidak memiliki keyakinan akan Tuhan.

Pada titik ini, rupanya Sobron terperangkap secara leterlek oleh pemikiran Karl Marx seorang filsuf, ekonom, sejarawan, teoritikus politik, sosiolog, jurnalis, dan seorang sosialis revolusioner, berkebangsaan Prusia, kelahiran Trier, Keharyapatihan Rhine Hilir, Kerajaan Prusia 5 Mei 1818, yang kemudian diadopsi teori filsafatnya oleh kaum komunisme bahwa, “beragama itu adalah immoral”.

Padahal jika saja, Sobron tidak gandrung dengan realisme sosialis, suatu aliran sastra dan seni yang berafiliasi kiri, tentu tidak mungkin dia jauh melangkah dari garis theis menuju komunisme yang atheis.

Dalam fase ini, tatkala memasuki masa senja, ujian pun datang kepadanya. Banyak yang kemudian meragukan dia dan keluarganya memiliki keyakinan akan Tuhan, dimana stigma anti Tuhan melekat kepada dia dan keluarganya.

Suatu waktu, mereka akan kembali kepada Sang Khalik, maka di saat itu juga mereka akan dengan jujur mengakui bahwa mereka bertuhan. Tentu suatu sikap ambivalen, yang kontras dengan masa muda, masa dimana masih bergeliat dengan ideologi komunisme. Tapi itulah fase memasuki masa senja, mereka hadir dengan sikap lebih moderat, yang sesuai konteksnya.

Pilihan Sobron kepada ideologi komunis menjadi preseden buruk baginya. Seperti yang dikisahkan dalam memoarnya itu. Dimana, buku ini ditutup dengan kisah kepulangan Sobron ke kampung halamannya, Belitung.

Begitu sampai di Belitung, tidak seorang pun yang menawari menginap di rumahnya, tutur Sobron. Keluarga yang dekat pun pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Rasanya asing, sudah pulang ke kampung halaman tempat kelahiran, tetapi tidak ada yang menyambut, tidak ada yang menawari menginap dan makan di rumahnya.

Ya, ketika isak tangis, keluh kesah, serta teriakan kepada sesama sudah tak bersambut, ke mana lagi harus minta tolong? Dalam keadan tak berdaya seperti itu, siapa pun, akan merasa seperti hidup sendirian. Bahkan sahabat karib yang dipercaya sekalipun satu per satu pergi menjauh. Hidup terasa hampa. Tak berarti lagi. Satu-satunya harapan ialah menyampaikan segalanya kepada Yang Di Atas.

Begitulah yang dialami Sobron Aidit, si penyandang stigma PKI, si komunis, tukang jagal, insan tak bertuhan. Tak berharap bahwa nanti ada yang peduli, keluh kesah itu ia tulis dalam deretan Surat Kepada Tuhan.

Bertuhan (Protestan)

Pergulatan panjang Sobron dari bertuhan, tak bertuhan akhrinya dia kembali bertuhan. Tentu merupakan suatu masa dimana dia mulai sadar, akan pulang ke alam baka. Sehingga perlu bertobat, agar bisa kembali dalam keabadaian dengan tenang. Dimana untuk mengetahui curahan hati Sabron yang kembali ke jalan yang benar, bisa disimak pada “Catatan Spiritual di Balik Sosok Sobron Aidit”, perbitan BPK Gunung Mulia, tahun 2005.

Untuk mendapatkan buku ini, saya tidak perlu bersusah payah menghuntingnya seperti buku sebelumnya, guna mengetahui masa anak-anak dan masa remaja dia beragama Islam, saat masih di Belitung dulu.

Buku ini diberikan secara gratis oleh sahabat saya, Abdul Fatah Nur yang biasa disapa Cecep, yang sejak tahun 2005 lalu, sering menjajakan koran, tabloid, dan majalah didepan emperan Swalayan Oasis di Jalan A.Y. Patty Ambon.

Saya tidak menanyakan dari mana dia mendapatkan buku itu, tapi kemungkinan besar, buku itu adalah suplemen majalah rohani Kristen Protestan. Berhubung Cecep tahu, saya menyukai bacaan sastrawan kiri, baik yang berada di tanah air seperti ; Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan yang exil di berbagai negara seperti ; Agam Wispi, F.L. Risakotta, serta Sobron Aidit.

Cecep pun memberikan buku itu kepada saya dengan berucap, “teman ini buku bagus” kata saya “trima kasih banyak kawan”. Benar adanya kata sahabat saya ini, suatu buku yang bagus, dimana setelah membaca buku ini, saya bisa mengetahui pergulatan spiritual Sobron, untuk menemukan Tuhan kembali.

Seperti dikisahkan dalam buku Sobron kedua ini, dia kembali bertuhan, dengan memeluk agama Kristen Protestan. Dimana, ini merupakan fase Sobron bertuhan kembali, dengan agama yang berbeda, dengan agama yang dia anut saat di masa kanak-kanak dan remaja dulu di Belitung.

Dalam buku ini Sobron menceritakan, bahwa pada awalnya ia ragu-ragu. Tulisannya, “apakah Yesus mau mendengar doa dan harapan saya? Sebab ketika itu saya belum dibaptis. Tetapi yang mengherankan, betapa baiknya Yesus. Sekalipun saya belum dibaptis, Dia tetap saja baik dan menerima saya”.

Setelah sekian puluh tahun bergumul mencari pegangan hidup, akhirnya Sobron bersama Nita, putrinya, menerima baptisan. Tuturnya, “Betapa kami larut dalam kegembiraan… hari itu 18 Juni 2000 saya merasa seakan-akan mengalami dan memasuki dunia baru…saya merasa ada kualitas baru dalam kehidupan ini”.

***.

Akhirulkalam meminjam ungkapan Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (1207-1273), yang populer dengan panggilan Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi kelahiran Balkh (Samarkand), pada 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah bahwa, “Tuhan telah memasang tangga di hadapan kita, kita harus mendakinya, setahap demi setahap”.

Pemaknaannya, suatu pergulatan spiritual yang perlu kita hadapi secara berlahan-lahan. Sehingga kita bisa mencapai ketenangan dan kenyamanan spiritual pada hai ini dan pada masa yang akan datang.(*)

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button