Puisi

Surat Cinta untuk Senior 

PUISI

Oleh: Pdt. Ridolf Kwalomine, S.Th

Mentari baru saja pergi, dan kami kembali di sini
Tak sendiri kami berdiri, menatap peti terbaring kekasih

Pagi ini, kami menatap putra Nusahulawano dalam sendu duka, karena pisah yang tak lagi jumpa.

Lelaki murah senyum yang baru memeluk angka 65 tahun ini, menutup usia dalam cinta yang tak bertepi

Lelaki yang teduk merengkuh sahabat, kerabat, dan handai tolan kini terbaring dalam sepi abadi

Bapa De…

Nusahulawano dan Uliaser mengantarmu pada tapak-tapak panjang nan berliku

Pada Talake yang memberi pelita
Pada Siwabessy 26 tuk merangkai asa
Pada Salemba 10 membangun karya dan pada Maranatha kau membenamkan bhaktimu

Bapa De…

Kematangan emosimu, tajam kecerdasanmu, lembut tutur katamu, jernih pikiranmu dan seluas dialektikamu, kau telah membentuk banyak kader bersama tipikalmu yang berkharisma…

Nyaris langka orang sepertimu
Padahal rumah biru kami adalah sekolah latihan yang membentuk orang-orang sepertimu

Kau selalu punya waktu untuk menjadi mentor kami…
Kau selalu punya ide untuk membentuk kami…

Sungguh… Kami sangat merasakan bimbinganmu saat kami diharuskan berjalan di atas aspal panas terik matahari tanpa alas kaki.

Kau membentuk kami seperti guru dengan menumpahkan seluruh gagasan, yang selalu segar dari sumur pengetahuanmu yang tak pernah kering.

Kami sangat merasakan bagaimana ditempa, berjibaku dengan asa di tengah waktu yang terhitung satu-satu supaya kami berani beradu tanpa malu tanpa ragu.

Kau mewariskan integritas, keberanian, keteguhan dan solidaritas sebagai kader dari rumah biru supaya paripurna di tiga matra gumul.

Memang kami akui, bahwa ada banyak senior dengan seribu cinta yang setia dan teguh menyemai cita bersama kami

Tapi Bapa De… Bapa De su datang deng cara yang khas… yang seng samua punya…

Kadang kami bertanya… untuk apa Bapa De biking samua itu?

Apakah Bapa De kurang sibuk?

Padahal sederet tanggung jawab bapa De biking deng Paripurna tanpa lelah, tanpa jeda…

Apakah Bapa De kurang waktu?

Padahal banyak waktu untuk Ma Is dan Ade Gena ditinggal sendiri, karena setia menjadi guru pada sekolah kepemimpinan yang kau bentuk dengan suka rela…

Apakah Bapa De kesepian dalam hingar bingar arus wacana?

Nyatanya… sampai rapuh tulang dan ringkih raga, kau tak pernah berhenti menyapa kadermu. Telpon dan WA….

Selalu ada alasan untuk bertanya, selalu ada cara guna memantik refleksi, selalu ada ide yang dilempar dan menjadi diskusi….

Bila itu telah kau lakukan, akan kau sudahi percakapan dengan memastikan kabar kami, kondisi kami, dan membuktikan kami pulang tidak dengan tangan kosong. Semua itu kau lakukan dengan senyum yang membentuk rindu.

Bapa De…

Dari Talake ke Siwabessy 26 sampai di Salemba 10… temaran jejakmu tersimpan dalam kenangan yang menyesakan dada.

Bila dinding dan tempok bisa berbicara, maka mereka akan bercerita tentang 1000 pertemuan dengan 1000 tema dari pasar sampai azas, dari kereta sampai tahta, dari lentera sampai bentara.

5 kepala daerah, puluhan wakil rakyat, para advokat, birokrat, konsultan, kuli tinta kau jadikan dengan tangan dingin.

Kecintaanmu pada kader tak separuh hidup
Kau menjadikan kami berarti pada hidup yang kami temukan.

Bapa De…

GMKI, GAMKI, PIKI, Pemuda PGI dan GPM adalah hidup dan dedikasimu.

Terbang tinggi di angkasa Oikumene dan Kebangsaan

Merajut tali silaturahmi dalam semangat kemanusiaan yang solider

Memelihara persaudaraan semesta menembus batas dan sekat promordial
Untuk menghidupi doa Sang Guru Agungmu “Agar semua satu adanya”

Bapa De…

Kami bersama Ma Is dan Ade Gewa
Berdiri di sini sepenuh cinta.

Menggenggam erat cinta yang kau berikan

Kami memelukmu penuh cinta dalam kenangan
bersama tangis pada senyummu yang manis
bersama rindu yang akan terus lestari
pada sebilik memori bersama Om Jo Leimena dan kawan-kawan.

Bapa De…

Ini surat cinta kami
Surat cinta ini kami sisipkan
Bersama tubuhmu yang membeku
genggamlah surat cinta ini dalam kepergianmu

bawalah bersama cintamu yang tak bertepi
ketika berjumpa sang kepala Gerakan yang kita cinta bersama

Selamat Jalan guruku, selamat jalan mentorku

Tenanglah dikeabadian cinta yang tak lagi menciptakan lelah pada raga dan jiwa
Selamat Jalan Pendetaku, selamat jalan penasehatku

Istirahatlah dengan kata-katamu, biarkan yang telah lepas akan hidup pada sanubari yang terwarisi.

Selamat Jalan Sahabatku, Perihmu telah berakhir di minggu sengsara yang tersisa satu.(*)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button