Kepulauan TanimbarPendapat

Semarak Taman Paskah di Jemaat Larat Kota

PENDAPAT

Saya menyebut pembuatan taman Paskah sebagai partisipasi performatif. Artinya, warga jemaat terlibat untuk menampilkan hasil karya bersama, bukan bertujuan menjuarai lomba, melainkan memperindah ruang publik dan memperkokoh relasi sosial.

Inilah esensi kebangkitan Kristus di Larat yang dipentaskan secara komunal. Ada beberapa hal yang menunjukan partisipasi performatif.

Pertama, warga jemaat mengubah pekarangan yang tak terurus jadi elok. Tak hanya itu, jalan raya dan setiap teras rumah dihiasi lampion. Sekejap Larat seumpama teater Paskah.

Baca Juga: Berkat Samonti

Banyak orang menikmati teater Paskah tanpa lakon aktual, melainkan narasi kebangkitan dalam diri aktor utama, Yesus Kristus, melalui keelokan taman.

Kedua, lazimnya perayaan Paskah berkaitan dengan drama penyaliban dan kebangkitan Yesus. Namun bukan drama Yesus, taman Paskah menyajikan drama sosial.

Sebuah drama yang berlangsung cair dalam keseharian warga jemaat. Drama di pekarangan dalam balutan rasa memiliki, bertukar gagasan, bergotong royong, makan bersama, “bakumalawang”, dan persaingan.

Ketiga, warga jemaat memiliki perbedaan status sosial karena jabatan, pekerjaan, dan budaya kekerabatan khas Tanimbar. Semuanya itu tak berlaku saat bergotong royong membuat taman Paskah. Mereka seolah menyadari bahwa keterlibatan bersama adalah kesamaan sebagai hamba Yesus.

taman paskah
Taman Paskah Sektor Imanuel.(Foto: Dok. Penulis)

Situasi ini menjadikan warga jemaat sebagai komunitas Paskah. Komunitas anti-struktur yang hanya muncul dalam kondisi liminal di pekarangan, dan kembali ke realitas setelah keluar pekarangan.

Keempat, taman Paskah sarat akan simbol Kekristenan. Simbol yang memberi kesakralan di pekarangan yang profan. Hierofani inilah yang menciptakan ketahanan dan keamanan taman. Tak ada yang berani merusaknya.

Sebuah mekanisme keamanan dalam balutan imajinasi sakralitas karena keterwakilan simbol-simbol Kekristenan.

Kelima, masing-masing sektor memiliki cara unik menyambut panitia. Ada yang menyambut dengan tarian tradisional, ada pula pengalungan syal tenun, bahkan menjamu makan. Padahal, panitia juga adalah warga jemaat setempat.

Baca Juga: Biking Diri Tau-tau

Keseluruhan penyambutan merupakan performansi yang bukan bertujuan menjinaki panitia. Sebaliknya, performansi tersebut merupakan kultur penghargaan orang Tanimbar kepada tamu, tapi juga karena gemar membuat perayaan. Performansi yang wajib dilakukan oleh orang Tanimbar.

Kesimpulannya, semarak taman Paskah di Jemaat Larat Kota sejatinya didorong oleh iman kepada Yesus, kultur ke-Tanimbar-an yang identik dengan perayaan, dan solidaritas sosial di kalangan warga jemaat. Itulah semarak taman Paskah di jemaat tempat saya sedang belajar sebagai Calon Pendeta GPM.

Selamat Merayakan Paskah Kristus 2023 kepada seluruh umat Kristen. Tak lupa, saya juga mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa bagi umat Muslim. Ubu naflahar ita ditinemun.(*)

IKUTI BERITA LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button