Apresiasi untuk Pemikiran Kolektif
White paper yang menjadi dasar tulisan saya ini bukan sekadar laporan biasa. Ia adalah hasil diskusi panjang Moluccan Network yang disusun M. Ikhsan Tualeka dan rekan-rekannya di Institute for Maluku Studies, yang melibatkan 255 orang dan 17 narasumber aktif.
Mereka antara lain Prof. Jan Sopaheluwakan, Prof. Alex Retraubun, Dr. Bokiraya Latuamury, Elifas Tomix Maspaitella, Dr. Jeff Malaihollo, Vogel Faubun, Rory Dompeipen, Justy Siwabessy, dan lainnya. Nama-nama ini mewakili spektrum yang luas: akademisi, peneliti, aktivis sosial, pemuka agama, bahkan mantan investment banker.
Apresiasi besar patut diberikan. Sebab dalam dunia yang sering disibukkan dengan kepentingan jangka pendek, mereka masih menyumbangkan waktu, pikiran, dan energi untuk menyusun visi besar: agar Maluku Raya tidak jatuh ke jurang kutukan sumber daya.
Pada akhirnya, Maluku dan Maluku Utara sedang berdiri di simpang jalan. Apakah mereka akan membiarkan kekayaan alam dijarah demi keuntungan cepat, atau memilih jalur yang lebih lambat tapi berkelanjutan?
White paper menutup dengan peringatan: “Kekayaan SDA bisa menjadi berkah yang menopang kemakmuran jangka panjang, atau kutukan yang merusak lingkungan, budaya, dan masyarakat. Kuncinya adalah tata kelola yang adil, transparan, berbasis budaya lokal, dan berorientasi pada keberlanjutan”.
Pertanyaannya kini: akankah Maluku Raya menulis bab baru sebagai model pengelolaan SDA yang bijak, atau sekadar mengulang kisah lama: tanah terkuras, laut tercemar, masyarakat tersisih, dan janji kemakmuran tinggal jargon politik?(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



