Maluku

Pimpin Rakor Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem di Maluku, Ini Penjelasan Wapres

potretmaluku.id – Wakil Presiden (Wapres) RI K.H. Ma’ruf Amin memimpin Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem Kabupaten Prioritas Provinsi Maluku 2021, di Kantor Gubernur Provinsi Maluku, Kota Ambon, Rabu (13/10/2021).

Rapat dihadiri oleh Guberrnur Maluku Murad Ismail dan para Bupati dari 5 kabupaten yang merupakan kantong-kantong kemiskinan ekstrem di tahun 2021, yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Maluku Barat Daya, Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan Kabupaten Seram Bagian Timur.

Mengawali pertemuan, Wapres menyampaikan bahwa rapat hari ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi penanggulangan kemiskinan ekstrem, yang telah dilaksanakan pada 28 September lalu.

“Rapat ini juga merupakan rangkaian dari kunjungan kerja saya ke tujuh provinsi prioritas tahun 2021, yang sudah dimulai sejak akhir September lalu di Bandung (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), dan Semarang (Jawa Tengah),” ucap Wapres membuka pertemuan.

Lebih jauh Wapres menjelaskan, bahwa program penanggulangan kemiskinan ekstrem yang harus diselesaikan pada akhir 2024 ini, merupakan arahan Presiden Joko Widodo. Adapun wilayah yang diprioritaskan mencakup tujuh provinsi, salah satunya Maluku.

Terkait pemilihan 5 kabupaten prioritas di Maluku serta seluruh 35 Kabupaten prioritas secara nasional pada 2021 ini, menurut Wapres, didasarkan bukan hanya pada kriteria persentase tingkat kemiskinan ekstrem, tetapi juga dikombinasikan dengan jumlah masyarakat miskin ekstrem di wilayah tersebut sesuai data BPS yang dihasilkan melalui SUSENAS Maret 2020.

Selain itu, lanjut Wapres, ukuran tingkat kemiskinan ekstrem mengacu pada definisi Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu sebesar 1,9 US dollar PPP (purchasing power parity) per kapita per hari, yang lebih rendah dibandingkan ukuran tingkat kemiskinan secara umum yang digunakan BPS yaitu sebesar 2,5 US dollar PPP per kapita per hari.

Dalam rapat koordinasi yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut, Wapres mengungkapkan, anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) untuk mendukung berbagai program penanggulangan kemiskinan jumlahnya cukup besar yakni mencapai lebih dari 500 triliun rupiah.

Namun, program-program tersebut, kata Wapres, belum dapat diterima secara optimal oleh masyarakat miskin. Untuk itu ia menekankan, diperlukan konvergensi program yang diinisiasi oleh K/L dan pemerintah daerah, karena hal tersebut merupakan kunci penanggulangan kemiskinan ekstrem.

“Jadi sebagaimana yang Saya sampaikan di berbagai kesempatan, bahwa dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem, anggaran bukanlah isu utama. Tantangan terbesar kita adalah bagaimana memastikan seluruh program tadi, baik program pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten dapat diterima oleh rumah tangga miskin ekstrem yang ada di lima wilayah kabupaten prioritas tersebut,” tegasnya.

Wapres pun mengapresiasi program-program yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Maluku terkait penanggulangan kemiskinan ekstrem, di antaranya Rumah Basudara Sejahtera” dan “Manggurebe Bangun Desa”

“Saya memandang program “Rumah Basudara Sejahtera” dan “Manggurebe Bangun Desa” maupun program inovasi lainnya sangat mendukung strategi penanggulangan kemiskinan dan khususnya untuk kemiskinan ekstrem yang saya sampaikan sebelumnya,”  katanya optimis.

Dalam waktu kurang dari 3 bulan tahun ini, Wapres menyadari bukanlah hal yang mudah untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem dengan program perlindungan sosial dan pemberdayaan reguler. Untuk itu, akan dilakukan upaya tambahan yaitu Program Sembako dan BLT-Desa.

“Untuk program Sembako, kita memiliki DTKS sebagai daftar rumah tangga penerima bantuan sosial yang dikelola oleh Kementerian Sosial, serta daftar nama yang digunakan oleh Kementerian Desa untuk menyalurkan bantuan langsung tunai desa,” ungkapnya.

“Sehubungan dengan itu, saya minta agar perbaikan data terus dilakukan, sehingga untuk pelaksanaan program-program pada tahun 2022 sampai tahun 2024, kita dapat menggunakan data rumah tangga miskin ekstrem yang lebih mutakhir dan akurat. Data lain yang tersedia di kabupaten juga dapat digunakan sebagai pelengkap dari sumber data utama yang sudah saya sampaikan sebelumnya,” sambungnya.

Sebagai informasi, total jumlah penduduk miskin ekstrem di Maluku mencapai 97.747 jiwa dengan total jumlah rumah tangga miskin ekstrem 22.110 rumah tangga. Jumlah tersebut terdiri dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan tingkat kemiskinan ekstrem 18,76 persen dan jumlah penduduk miskin ekstrem 21.270 jiwa; Kabupaten Maluku Tenggara dengan tingkat kemiskinan ekstrem 13,65 persen dan jumlah penduduk miskin ekstrem 13.660 jiwa; Kabupaten Maluku Tengah dengan tingkat kemiskinan ekstrem 10.53 persen jumlah dan penduduk miskin ekstrem 39.400 jiwa; Kabupaten Seram Bagian Timur dengan tingkat kemiskinan ekstrem 12,73 persen dan jumlah penduduk miskin ekstrem 14.750 jiwa; serta Kabupaten Maluku Barat Daya dengan tingkat kemiskinan ekstrem 14,43 persen dan jumlah penduduk miskin ekstrem 10.580 jiwa.

Hadir mendampigi Wapres dalam rapat tersebut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mohammad Mahfud MD, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, serta Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki. (WEH)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button