Maluku

Peran Vital Solidaritas Lintas Iman dalam Mewujudkan Pembangunan Rendah Karbon di Maluku

“Tokoh agama memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Di berbagai masjid, rumah ibadah, maupun majelis, mari kita terus sampaikan tentang bahaya sampah dan kerusakan alam yang, jika dibiarkan, dapat membawa bencana bagi kita semua,” ajaknya.

Dr. Abdul Manaf Tubaka, Akademisi Sosiologi Agama dari IAIN Ambon, menyoroti pentingnya literasi keagamaan yang mendalam terkait lingkungan.

“Di lembaga keagamaan, kita harus memahami bahwa krisis iklim berdampak besar pada kelangsungan hidup manusia. Ada kesenjangan dalam literasi keagamaan terkait isu ini, padahal kebijakan pemerintah sudah menyediakan ruang bagi partisipasi masyarakat. Kami berharap ini menjadi titik awal untuk kolaborasi yang lebih baik,” ungkap Dr. Manaf.

Pendeta John Victor Kainama, Kepala Biro Lingkungan Hidup dan Kebencanaan Gereja Protestan Maluku (GPM), menambahkan, “Gereja Protestan Maluku memahami bahwa tanggung jawab ekologis adalah bagian dari iman. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah, seluruh denominasi gereja, serta elemen masyarakat lainnya untuk mengupayakan pelestarian lingkungan sebagai rumah bersama bagi seluruh makhluk.”

Lebih lanjut, Pendeta John menjelaskan bahwa GPM telah memiliki pedoman advokasi lingkungan hidup yang diwujudkan dalam agenda konkret bersama seluruh lapisan masyarakat.

“Kami melihat forum pertemuan hari ini sangat strategis untuk memperluas advokasi lingkungan hidup yang berbasis pada keadilan,” tambahnya.

M. Yusuf Sangadji, Direktur Eksekutif Jala Ina (Jaga Laut Indonesia), mengingatkan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sangat rentan terhadap dampak krisis iklim.

Sebagai contoh, Provinsi Maluku memiliki 1.292 pulau kecil, sementara Provinsi Maluku Utara memiliki 863 pulau kecil. “Dengan demikian, jumlah pulau di Kepulauan Maluku tercatat sebanyak 2.155 pulau. Wilayah kepulauan ini sangat rentan terhadap krisis iklim,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga wilayah kepulauan yang menjadi ciri khas Indonesia. Selain itu, Yusuf menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan perampasan ruang hidup.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button