
“Pendidikan bukan hanya soal angka dan huruf, tapi juga soal rasa, cerita, dan karya. Ia lahir dari penerimaan setiap anak yang dibentuk dalam kasih sayang keluarga dan komunitasnya,” ujar beliau dengan penuh semangat.
PENSIL juga menjadi cerminan gagasan bahwa literasi tidak melulu soal membaca teks, melainkan membaca kehidupan.
Ketika anak-anak memainkan kisah legenda lokal, mereka sedang menenun identitas, merajut empati, dan membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan. Inilah bentuk pembelajaran yang menyentuh: menyenangkan, membumi, dan membentuk karakter.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, mulai dari Bunda PAUD Kota Ambon, Dinas Pendidikan, HIMPAUDI, pemerintah negeri, hingga jejaring relawan dan pengajar komunitas, termasuk Give Center Jakarta dan Buku Voor Aboru. Kolaborasi ini menegaskan bahwa membangun generasi tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah, tetapi harus melibatkan seluruh ekosistem sosial.
Dengan total 46 anak dari berbagai jenjang usia, PENSIL menyajikan pertunjukan seni yang sarat nilai. Mulai dari drama, puisi, hingga tarian, semuanya bertujuan menggali dan menanamkan kembali nilai-nilai luhur dalam keseharian anak-anak.
Sebuah pendekatan pendidikan holistik yang menjadi ciri khas Yayasan Elphidos Maluku bahwa setiap anak, tak peduli dari mana asalnya, pantas diberi ruang untuk tumbuh dan berkarya.
PENSIL bukan hanya pertunjukan, tetapi sebuah pernyataan: bahwa generasi penerus bangsa perlu dibentuk dengan sentuhan budaya, pelukan kasih, dan teladan persaudaraan.
Di saat dunia dewasa sering kali gagal berdamai, anak-anak kita masih punya peluang untuk tumbuh dalam damai, asal kita berani memberi mereka ruang dan kepercayaan.
Sebab seperti yang diyakini para penggagas kegiatan ini, “Anak-anak adalah masa depan orang tua. Ajari mereka dengan baik dan biarkan mereka memimpin.”
Di akhir acara, Yayasan Elphidos Maluku menyampaikan harapan besar agar kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi model pembelajaran yang humanis di berbagai tempat lainnya.
“Mari bersama kita rajut persaudaraan melalui seni dan literasi, demi masa depan Maluku dan Indonesia yang damai, berbudaya, dan beradab,” tutup Pendeta Alda Mual-Nahumury. Dari Ambon untuk Indonesia, suara anak-anak menjadi cahaya yang memecah gelapnya perbedaan.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



