LingkungamNasional

Pdt. Benly Membawa Jeritan Warga Desa Tolong ke Forum Nasional

Oleh: Shuresj Tomaluweng (mantan Relawan Lembaga Antar Iman Maluku)


Kesaksian pendeta dari Gereja Protestan Maluku tentang dugaan dampak pertambangan di Pulau Taliabu, mengingatkan gereja pada tanggung jawab memperjuangkan keadilan ekologis.

Bagi warga Desa Tolong, Pulau Taliabu, Maluku Utara, persoalan lingkungan bukan sekadar perdebatan tentang pembangunan. Mereka menghadapi keluhan mengenai kondisi sungai, kerusakan tanaman kebun, serta harapan terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan yang dinilai belum terpenuhi.

Persoalan itu dibawa Pdt. Benly Pattihawean, M.Si., dari Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), ke Seminar Agama-Agama ke-40 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Makassar, 20–23 Oktober 2026.

Di hadapan peserta seminar, Benly memaparkan pengalaman masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan. 

Kesaksiannya mengangkat pertanyaan tentang dampak kegiatan ekonomi terhadap lingkungan dan kehidupan warga, sekaligus tanggung jawab pemerintah, perusahaan, dan lembaga keagamaan dalam merespons persoalan tersebut.

Nama Desa Tolong seolah menyimpan pesan tersendiri. Dalam bahasa sehari-hari, kata itu merupakan permintaan bantuan. Dalam konteks kesaksian Benly, nama tersebut menjadi pengingat akan suara masyarakat yang berharap keluhan mereka didengar.

Seminar yang mengusung tema “Merawat Demokrasi, Menegakkan Keadilan Ekologis: Panggilan Bersama Agama-Agama bagi Indonesia yang Damai” itu, menjadi ruang untuk membawa persoalan lingkungan dari sebuah desa ke percakapan lintas agama di tingkat nasional.

Keluhan tentang sungai dan kebun

Dalam presentasinya, Benly menguraikan sejumlah persoalan lingkungan yang dilaporkan masyarakat Desa Tolong di sekitar aktivitas pertambangan PT Adidaya Tangguh. Perusahaan tersebut disebut dalam materi presentasi sebagai bagian dari Salim Group.

Salah satu persoalan yang disoroti ialah perubahan kondisi air Sungai Fango di Dusun Fango. Materi presentasi Benly merujuk pada hasil pemeriksaan laboratorium yang disebut menunjukkan adanya unsur bijih besi yang dikaitkan dengan limbah pengolahan pertambangan.

Masyarakat juga melaporkan banjir yang merusak tanaman kebun serta keluhan kesehatan yang mereka kaitkan dengan kondisi sungai.


Penulis :
Editor :

1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button