Pangeran Diponegoro, Daeng Nuhung dan Becak di Makassar

Jumlah penumpang becak, sejatinya hanya cukup untuk dua orang. Kalau penumpangnya (maaf) bertubuh agak besar, sudah kesulitan. Namun, terkadang satu becak memuat sampai tiga orang penumpang. Bila kebetulan yang naik bertiga, dan semuanya remaja perempuan, biasanya ada yang melontarkan candaan: yang di tengah tidak membayar hehehe.
Naik becak itu tidak punya patokan ongkos tertentu. Tarif becak sekali jalan, tergantung negosiasi, atau harga pasaran yang sudah diketahui penumpang berdasarkan pengalaman sebelumnya. Menariknya, hampir kita tidak pernah mendengar tukang becak ribut gegara rebutan penumpang.
Sementara tempat mangkal becak, biasa di depan lorong atau jalan kecil, dekat pasar tradisional, kawasan pertokoan, dekat sekolah, atau tempat-tempat keramaian.
Keberadaan becak kini semakin tergerus zaman. Becak yang penah jadi moda transportasi andalan warga Kota Makassar semakin jarang terlihat. Becak-becak terdesak oleh kehadiran bentor (becak motor), sebuah kendaraan modifikasi becak yang dikombinasi dengan sepeda motor.
Setelah maraknya kendaraan berbasis aplikasi online, yang disebut ojol, nasib penarik becak kian terpinggirkan. Beberapa tukang becak terpaksa beralih profesi jadi tukang parkir, atau pekerjaan lain. Sebagai bukti bahwa becak pernah merajai jalanan Kota Makassar bisa dilihat pada tugu becak di Anjungan Pantai Losari. (*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



